Be Careful What You Wish For!!

DOR!

“Semua akan baik-baik saja”

Katamu sebelum kau benar-benar meninggalkan aku.

 

Hai tuan, aku tidak akan baik-baik saja. Ingatkah saat aku memintamu untuk tidak pernah meninggalkan aku? Kau pikir permintaan itu tidak beralasan? Apa kau tidak mengerti kalimat itu? “Jangan pernah tinggalkan aku!“. Ahh, mungkin kamu belum mengerti. Jadi mari, duduklah sebentar di sini, biar kujelaskan maksudku.

 

Begini, saat kubilang “jangan pernah tinggalkan aku” itu artinya aku benar-benar tak ingin ditinggalkan. Saat aku mengatakan itu, aku layaknya ikan yang tak ingin ditinggalkan air di dalam akuariumnya. Tak ingin ditinggalkan bukan karena sekedar ingin terus bersama, tapi karena ikan itu butuh air untuk tetap hidup.

 

Kamu mengerti sekarang? Aku butuh kamu untuk bertahan hidup. Kamu oksigenku. Tanpa oksigen aku tidak bisa bernafas, mati! Belum lagi jika kamu benar-benar berbalik saat ini, lalu bertemu dengan sesosok wanita lain di ujung jalan sana.

 

Ahh, sebentar. Tampaknya bukan ketidakhadiranmu yang membuat oksigen di sekitarku seolah habis. Tapi melihat hatimu tak lagi untuk aku yang lebih menyiksa. Apakah benar-benar ada wanita lain yang sudah menunggumu di ujung jalan sana?

 

Seketika mataku basah membayangkan hatimu yang diisi nama wanita lain, bukan namaku. Tidak ada perpisahan yang membahagiakan dalam kamus hidupku. apakah kamu pernah berpisah lalu tertawa terbahak-bahak sesudahnya?

 

Hmm, ya, mungkin kamu memang akan tertawa setelah meninggalkanku. Karena wanita di ujung jalan itu kan?

 

Maafkan aku, aku tak bisa membiarkanmu pergi dengan cara seperti ini.

 

DOR!!

Nah, lebih baik begini. Menyaksikanmu pergi dengan kepala bersimbah darah begini lebih baik daripada melepasmu pergi dengan membiarkan kemungkinan kamu bertemu wanita lain itu di ujung jalan.

 

Selamat Tinggal!!!

 

Tentang Kenangan

memory

 

Masikah kau buka foto-foto kita dulu? Seperti aku masih melihatnya satu persatu sambil tersenyum. Menertawakan kita yang dulu terjebak dalam cinta. Atau masihkah kau baca tulisan-tulisan yang kubuat untukmu? Seperti aku masih membaca tulisan-tulisanmu untukku. Seperti yang sedang kubaca ini, kau menulis tentang mengajakku pergi dengan permadani terbang. Mengangkasa bak Aladdin dan Jasmine.

 

Aku tertawa lagi. Menertawakan betapa seorang pria berusia 25 dan seorang wanita berusia 22 tahun jatuh cinta layaknya mereka yang masih berseragam putih abu-abu. Cinta yang kita sendiri tak tahu maknanya.

 

Memang persahabatan kerap kali membuat kita menyalah artikan rasa sayang. Rasa sayang yang sepertinya tak puas dengan sebuah batas yang disebut persahabatan. Lalu mereka memberontak melewati batas karena mereka ingin lebih.

 

Tapi apa daya kita, kita ini manusia bukan?

 

Tapi itulah kenapa Tuhan selalu melarang kita melampaui batas. Berkali-kali Dia memperingatkan hamba-hambanya agar tak melampaui batas. Karena Dia tahu benar watak mahluk ciptaannya ini. Tapi kita tetap memberontak, dan bergeser dari sahabat ke garis di sampingnya, kekasih.

 

Lalu semua seolah berjalan ke arah yang salah. Semua yang tadinya kita lihat indah, kita rasa menyenangkan, sekarang terlihat dan terasa tak seindah dan semenyenangkan dulu. Bahkan apa yang dulu tak pernah menjadi masalah kini jadi masalah yang membuat kita berteriak satu sama lain.

 

Dan hasilnya, kita harus sampai pada tahap yang namanya melepaskan. Kita kehilangan. Sama-sama terasa berat, karena kau dan aku sama-sama tahu. Persahabatan memang biasa beralih menjadi cinta. Tapi tak adilnya, jarang sekali cinta yang bisa berakhir dengan persahabatan. Maka hari itu aku, dan juga kamu, kehilangan kekasih, sekaligus sahabat.

 

Aku jadi bertanya-tanya bagaimana kabarmu. Masihkah kau simpan kenangan itu, seperti aku masih menyimpannya. Bukan untuk diulang suatu saat nanti, tapi untuk dilihat seraya tersenyum. Karena kita pernah punya cerita dulu. Kenangan yang menyimpan tiga bulan hidupku yang dibagi denganmu, tiga bulan hidupmu yang dibagi denganku.

 

Semoga kamu baik-baik saja dan kau menemukan bahagiamu kini.

Seperti aku menemukannya.

 

 

Sekedar Selamat Tinggal?

selamat tinggal

 

Kamu diam lagi. Aku menunduk, melarutkan diri dalam diammu. Cukup rasanya aku bersuara, berusaha memperbaiki yang kupikir masih bisa diperbaiki. Semua usaha yang hanya dibalas diammu.

 

Tahukah kamu, wanita selalu perlu diyakinkan. Kami, para wanita, ibarat perahu yang butuh nahkoda untuk mengarahkan pelayaran. Arah perahu ini tergantung kalian, para pria, sang nahkoda.

 

Tapi lihatlah aku. Aku ini perahu yang dibiarkan terombang-ambing oleh sang nahkoda yang sibuk ragu-ragu dalam diamnya. Nahkoda yang membiarkan perahunya dipermainkan angin. Aku lelah terombang-ambing di tengah lautan, perjalanan ini membuatku sangat lelah.

 

Aku bahkan tak tahu kemana tujuanmu wahai nahkoda. Mengapa kau bawa aku berlayar jika kau bahkan tak tahu kemana kau hendak mengarah. Dan jika kau tak bisa menentukan tujuan, bisakah paling tidak kau antar aku kembali ke pelabuhan, tambatkan aku di sana, lalu pergilah. Tapi tak juga kau tambatkan aku di pelabuhan. Kau tetap memilih terombang-ambing di tengah lautan.

 

Aku heran bagaimana kau bisa terdiam begitu lama. Aku lelah dengan diammu. Tak perlu kau tunda kecewaku. Karena kecewa yang ditunda ini justru terasa semakin menyiksa. Katakanlah sekarang, jika aku memang bukan lagi perahu yang ingin kau nahkodai, bukan nama yang mengisi relung hatimu. Kau tahu, aku tak pernah memaksa.

 

Kamu tetap diam dan menunduk. Ini sudah berakhir, itu arti diammu. Seperti janjiku, takkan kupaksa kau untuk tinggal. Tapi aku tak puas dengan diammu. Jadi sebelum kau berbalik, bisakah paling tidak kau katakan sesuatu? Karena aku tak mau ini berakhir tanpa kata-kata.

 

Sekedar selamat tinggal mungkin?

Ini Janjiku!

janjiku

 

Hari ini aku kembali menerima sebuah pesan

Yang aku tahu pasti siapa pengirimnya

Lagi-lagi pesan ini datang dengan bahasa yang tidak kumengerti

Kuhayati berulang-ulang, tapi aku tetap tak menangkap makna yang berusaha disampaikan pesan ini

 

Ilmuku yang terbatas ini belum membuatku mengerti makna pesan maha dahsyat ini

Pesan yang membuat aku mengerahkan seluruh kemapuan dan upaya untuk menghayati dan memaknainya

Pesan yang hanya membuatku menangis tanpa mengerti apa yang kutangisi

Tapi tetap tak mampu kutangkap maknanya

 

Kini, kuakui dihadapanMu

Aku bodoh, tak mampu aku melawan keMahaanMu

Takkan kupaksa lagi Kau membuatku tahu sebelum waktuku

 

Maafkan aku yang memaksa

Kini aku akan menunggu sampai waktunya Engkau membuka tabir rahasiaMu untukku

Menunggu Engkau mengizinkanku mengerti tentang rencana indahMu untukku

 

Aku akan berhenti memaksa

Dan menunggu

 

Ini janjiku Tuhan

 

 

Tentang Melepaskan

just let it go

 

Menyimpanmu di hatiku sama seperti menggengam mawar penuh duri

 

 

Durinya melukai tangan dan jariku

Tapi merah dan wangi mawar yang khas justru membuatku menggenggamnya lebih erat

Alhasil aku semakin terluka

 

Luka di genggamanku makin dalam

Darah mulai menetes

Tapi tak kulonggarkan genggamanku

Darah menetes makin banyak

 

Mereka semua berteriak agar kulepaskan mawar ini

Tapi otakku tak mengizinkan genggamanku memberi respon

Genggamanku justru makin erat

 

Darah ini mulai mengucur deras

Air mataku mulai menetes

Tampaknya tak lagi sanggup kutahan sakit ini

 

Aku terjatuh berlutut

Aku mati-matian tetap mempertahankan mawar di genggamanku

Tapi lukaku terlalu dalam

Hingga mawar di genggamanku terlepas

Meninggalkan banyak luka di tanganku

 

Jangan tanya rasanya!

Aku sedih teramat sangat kehilangan mawarku

Tapi harus kuakui ini melegakan!

Mawar itu takkan melukaiku lebih banyak lagi

Sudah terlalu banyak luka di sini

 

Tapi, bukankah yang namanya luka pasti bisa disembuhkan?

Inilah Yang Terjadi Ketika Aku Mencoba Bercerita

akan kucoba

 

Aku ingin menulis tentang kamu. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan. Perasaan yang sulit kuungkapkan langsung. Jadi biarlah tulisanku yang bercerita

 

Akan kumulai sekarang!

 

Baiklah, aku akan mulai merangkai huruf demi huruf. Hingga huruf-huruf ini membentuk suatu kata. Kata yang memiliki arti.

 

Lalu akan kususun kata demi kata yang terrangkai dari huruf-huruf itu. Hingga kata demi kata ini membentuk sebuah kalimat. Kalimat yang mempunyai makna.

 

Akan terus kugabungkan kata demi kata hingga kudapat banyak kalimat. Kalimat-kalimat yang kemudian membentuk suatu paragraf. Paragraf yang mengungkapkan sesuatu.

 

Paragraf ini pun akan terus kususun. Bertambah paragraf demi paragraf. Paragraf yang satu kuhubungkan dengan paragraf yang lain. Hingga terbentuklah satu cerita yang utuh. Cerita yang dapat dibaca, dimengerti, dan dihayati. Cerita tentang apa yang tak bisa kuungkapkan padamu. Cerita yang bisa membuat kamu mengerti.

 

Tapi kenapa justru huruf-huruf ini yang terangkai menjadi kata yang membentuk kalimat yang menyusun paragraf demi paragraf ini yang tersusun. Paragraf demi paragraf yang tidak bercerita. Paragraf yang gagal mewakili apa yang kurasakan.

 

Ahh, tampaknya aku masih tetap bodoh, aku tidak bisa.

 

Sulit sekali ternyata untuk sekedar menyatakan betapa aku meyayangimu. Sangat menyayangimu!

 

Ups, apakah aku baru saja mengatakannya?

 

 

Pertanyaan Yang Saya Tidak Tahu Jawabannya

bo·san : sudah tidak suka lagi krn sudah terlalu sering atau banyak; jemu [KBBI]

Inikah yang sedang saya rasakan? Saya sedang bingung memberi makna terhadap apa yang sedang saya rasakan. tadinya saya pikir ini bosan, tapi melihat definisi bosan di atas tidak lantas menjadikan saya yakin apakah saya benar-benar sedang bosan.


Jadi, kenapa saya?

Our Little Secret

our little secret

 

Listrik mati malam ini

Gelap

 

Hujan tak mau kalah, ia turun deras diiringi petir yang saling menyambar

Dingin

 

Di sinilah aku, di tengah ruangan yang dipenuhi teman-temanku yang berencana membuat acara barberque dan menonton DVD bersama untuk merayakan kelulusan salah seorang dari kami.

 

Semua menekuk wajah karena acara hari ini dibuat berantakan oleh PLN dan hujan yang mengguyur alat pemanggang kami. Taman belakang tempat tadinya kami akan memanggang makanan malam ini pun habis diguyur hujan.

 

Aku hanya duduk di salah satu sudut sambil melihat semua mengeluhkan keadaan yang membuat acara senang-senang jadi berantakan. Hampir semua menggumam.

 

Tapi aku tetap tersenyum

Kamu tahu kenapa?

Sssst, tapi jangan bilang siapa-siapa yah

Ini rahasia!

 

Aku tetap tersenyum karena hatiku tetap benderang walaupun disini gulita

Aku tetap merasa hangat biarpun di sini dingin menusuk

 

Gelap itu jadi benderang, dingin ini jadi terasa hangat.

Karena kamu

 

Ya, kamu!

 

Ssssst, ingat, ini rahasia!

 

 

Pagi Yang Tak Biasa (100 kata lagi)

pagi yang tak biasa

Ada yang tak biasa dari pemandangan pagi ini

Indah, pemandangan ini lebih indah

 

Tak seperti biasanya burung-burung berkicau lebih riang di dahan-dahan pohon

Pohon itu juga tak biasa, daunnya lebih hijau

Bunga-bunga liar yang tumbuh di bawahnya pun tampak lebih berwarna

Awan berkejar-kejaran di birunya langit yang hari ini tampak begitu cerah

Matahari pun demikian, ia tersenyum hangat menyempurnakan kecerian awan dan kecerahan langit

 

Pagi ini,  apa yang biasanya kulihat tak berwarna menjadi berwarna

Yang biasanya kulihat berwarna, menjadi lebih berwarna

Kuperhatikan sekali lagi

Mencari apa yang berbeda

 

Akhirnya kutemukan penambah semarak suasana pagi ini

 

Dia yang sepuluh purnama kutunggu-tunggu

 

Surat Untuk Perempuanku

aku akan pergi mengadu

 

Kepada Perempuanku

 

 

Wahai perempuanku, tahukah kamu betapa dahsyatnya efek  setiap apa yang kamu lakukan terhadapku? Ingatkah saat pertama kali kau terima uluran tanganku saat kita dikenalkan dulu? Aku ingat! Aku juga ingat betapa merdunya suaramu saat kau mengucapkan namamu dengan sebaris senyuman di bibirmu. Uluran tangan, suara, dan senyuman yang begitu menyihirku. Aku tersihir pesonamu wahai perempuanku, dan aku bertekad untuk memilikimu sejak saat itu.

 

Tak pernah semudah ini kupasrahkan hatiku kepada seorang wanita. Pun kau tak tampak keberatan kuisi hatiku denganmu. Kau selalu riang menerima sapaanku. Tampak antusias menjawab pesanku. Gelak tawa yang terdengar saat kita berbicara pun menunjukkan bahwa kau sama sekali tidak keberatan.

 

Kupuja kamu seperti tak pernah kupuja hal lain wahai perempuanku. Dewa cinta pun pasti tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengetahui betapa aku memujamu. Dan kau tahu apa yang terjadi jika seseorang yang terlalu memuja sesuatu dikecewakan bukan?

 

Aku yang begitu percaya diri ini memberanikan diri mengungkapkan apa yang kurasakan padamu. Cintaku ini terlalu membuncah untuk ditahan. Tapi kau hancurkan kepercayaan diriku wahai perempuanku. Kau hujamkan beribu pisau di jantungku saat kau katakan kau tak memiliki perasaan yang sama.

 

Kuingat ulang semua kenangan kita, kejadian demi kejadian. Semua tawa itu tak menunjukkan kau tak memiliki perasaan khusus, senyum itu, bentuk perhatian kecil yang tak pernah alpa kau berikan. Apa yang salah perempuanku? Tak pernah benar-benar kau katakan apa yang salah dari apa yang kita jalani. Tak pernah kau beritahu dimana letak kesalahanku yang membuatmu tidak memiliki perasaan yang sama.

 

Aku tak terima perempuanku, tapi kamu terlalu berharga untuk kusakiti. Aku takkan punya hati untuk meninggalkan secuil pun luka di tubuh molekmu. Aku tak punya hati untuk membiarkan setetes air mata pun membasahi paras ayumu. Tidak akan, jadi tenanglah kau disana.

 

Apa yang akan kulakukan?

 

Saat kau baca pesanku ini kau pasti sudah tahu apa yang kulakuan. Aku akan pergi mengadu. Aku sedang dalam perjalanan ke sana, dan maaf aku harus meninggalkanmu, tapi ini agar nanti kita bisa bersama lagi. Jadi kau tak perlu menangis sayang, karena aku tetap tak rela parasmu basah oleh air mata

 

Ya perempuanku, aku sedang dalam perjalanan. Perjalanan menuju Satu-Satunya Tempatku Mengadu. Aku sudah berkali-kali mencoba mengadu dari sini, tapi tampaknya Ia tak mendengar. Aku juga sudah berteriak meminta pada langit, karena katanya di sanalah DIa berada. Tapi tetap nihil!

 

Jadi aku akan datang langsung kehadapanNya. MemakiNya kalau perlu, dan aku akan menyalahkannya yang tak membuatmu mencintaiku, padahal katanya ia Penguasa segala kuasa.

 

Aku sedang kesana, mengadu pada Penciptaku!