Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Ngerumpi’ Category

Why Not You? – Self Note

why

 

Why Me?

 

Ini pertanyaan, atau lebih tepat bila disebut ratapan, yang pertama keluar saat saya-anda-kita, ditimpa kemalangan, menghadapai sesuatu yang di luar harapan, diuji. Mengeluh memang reaksi termudah terhadap segala persoalan hidup, seolah-olah dengan mengeluh, masalah itu menghilang, dan akan menemukan jalan keluarnya sendiri. Dan apalagi yang lebih mudah kita persalahkan selain takdir Tuhan. seolah Tuhan menciptakan manusia ke dalam dunia yang option-less, yang tanpa pilihan. Padahal bukankah seringnya kita yang menghadapkan diri kita pada situasi yang (seolah-olah) option-less.

 

Yang perlu kau ingat, adalah bahwa Tuhan tidak perlu bertanya, atau meminta izin dari siapapun sebelum menjalankan kuasaNya tentang apapun dan pada siapapun yang Dia kehendaki. Dia tahu apa yang tidak kita ketahui. Dia mengatur sampai pada detail terkecil yang bahkan tak terlintas untuk kita pikirkan. Kita lah yang hidup dalam keterbatasan pengetahuan, yang menjadikan kita sibuk mencari sumber kesalahan, mencari seseorang (sesuatu), yang bisa dipersalahkan atas ketidaksesuaian kenyataan hidup dengan rencana yang terlanjur kita susun rapi, dan ketika tak ada lagi yang bisa dipersalahkan, kita lalu mempersalahkan Tuhan(?).

 

Jujurlah, apakah pernah terlintas pertanyaan “why me?” saat kita menerima takdir yang lebih baik. Setumpuk uang, kesempatan merasakan pendidikan di sekolah terbaik, rumah dan tempat tidur nyaman, makanan enak, atau bahkan sesederhana mempertanyakan kenapa Tuhan masih membangunkan kita dari tidur semalam, tapi berhenti memberi nafas pada seorang lain di sudut lain? Apakah menurutmu saat itu Tuhan lalai, lalu memberi jatah hidup pada orang yang salah? Dia tidak pernah lalai, Dia hanya tahu benar apa yang dia lakukan, lagi-lagi kitalah yang serba tak tahu.

 

Maka sebelum kau lagi-lagi menggugat Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaanmu, syukurilah apa yang dia berikan, baik, buruk, manis, atau pahit. Sebab tak ada ketetapannya yang sia-sia, kita hanya perlu mensyukuri, menggali makna di balik ketetapanNya, memetik pelajaran, lalu berjalan tegak di tengah segala yang Tuhan anugerahkan.

 

Dan mungkin, hanya mungkin, pada setiap pertanyaan “why me?” yang kau ajukan, Tuhan menjawab “why not you?”

 

***

 

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (55:13)


Advertisements

Read Full Post »

Let Go!

 

Selalu ada pelajaran di balik setiap yang datang, dan yang pergi.

 

Yang datang, mungkin ingin mengajarkanmu tentang merawat, mencintai, dan menjaga apa yang kau miliki detik ini, sebab bisa jadi, detik berikutnya, milikmu, bukan milikmu lagi, dan betapa kau perlu memperlakukan milikmu dengan perlakuanmu yang terbaik, menjaganya dengan seluruh dayamu, selagi kau mampu.

 

Yang pergi, mungkin juga ingin mengajarimu tentang betapa satu detik yang berlalu takkan mampu kau ulang lagi, tentang melepaskan, dan yang utama tentang menghadapi perpisahan. Bahwa melepaskan kadang lebih baik daripada berpegang pada sesuatu yang justru memberatkan langkahmu.

 

Apapun ketentuannya, hadapi, dan yakinlah bahwa kau akan baik-baik saja!

 

 

Dan bukankah harus ada nafas yang kau hembuskan sebelum menghirup udara yang baru?

Read Full Post »

Warna Cinta

truelove

 

Cinta seperti warna, lebih mudah dinikmati, dirasakan, dan dimaknai sendiri, dibanding ketika mencoba menjelaskannya melalui media kata-kata. Mintalah seseorang menjabarkan bagaimana biru, maka dia kemungkinan akan diam, bingung merangkai kata untuk mendeskripsikannya. Tapi mintalah ia menunjukkan biru, maka ia akan menunjukkan mulai dari hamparan langit, sampai bentangan samudra, hingga kau tahu apa itu biru.

Begitupun cinta. Jika kau pinta aku menjabarkan cinta, maka aku akan diam. Namun cobalah minta aku menunjukkannya, maka aku akan berdiri di sampingmu, di tengah senyumanmu, atau diantara luapan kemarahanmu. Dari kulitmu segar dan kenyal, hingga ia melar kalah oleh gravitasi. Dari mulai rambutmu hitam lebat, hingga kepalamu hanya menyisakan sedikit saja rambut yang memutih.

Dan kau pun akan tahu!

 

Read Full Post »

titipan kilat

special delivery

kuselipkan rindu pada tetes-tetes hujan yang turun sore ini
hingga jika saatnya ia jatuh menyentuh tanah
rinduku akan mengalir menuju bawah jendelamu

sudahkah kau terima rinduku?
katanya hujan mengantarkannya dalam kotak
dengan pita merah jambu
di sudutnya ada tempelan perangko khusus dari pelangi

 

Read Full Post »

Curahan Hati Untuk Langit

lost

 

Wahai langit tempat bintang bernaung, malam ini aku menatapmu dengan dada penuh gemuruh. Tak tahu apa yang menyerangku, yang pasti dadaku rasanya penuh. Seperti ingin menangis, tapi tak tahu pasti kenapa aku harus menangis. Mungkinkah ini masih tentang dia, yang meninggalkanku?

Aneh, walau bintang bertebaran di langitmu, bintang yang berhasil memandu nelayan di tengah lautan, tapi tak satu pun mampu menyelamatkan aku dari ketersesatanku tanpa dia yang masih kurindu, tidak juga bintangmu.

Hhhh, mengingat dia saja membuat nafasku sesak, hingga merasa perlu menarik lebih banyak udara untuk bertahan. Setelah sekian lama, nyatanya dia masih tetap memenuhi atmosferku dengan memori, yang seringnya menyiksa. Dan percayalah, siksanya jauh lebih buruk dari sesakku saat mendengar namanya. Maksudku, jika namanya saja masih membuat udara di sekitarku terasa menipis, bagaimana dengan helai-helai kenangan yang berterbangan di sekitarku. Kau takkan mau tahu rasanya.

Entahlah, apakah berbicara padamu, langit, seperti ini, akan membantu meringankan berat yang menggelayutiku. Kau tak pernah tahu rasanya ditinggalkan semua bintangmu, sendirian, hingga menyisakanmu bersama gelap saja. Bisakah kau bayangkan itu wahai langit, bayangkan perihnya sendirian. Dan jika membayangkannya sudah membuatmu hampir menitikkan air mata, sekarang bayangkan aku, yang telah terlanjur ditinggalkan, yang terlanjur dibiarkan sendirian, gelap tak berkawan.

Duh, kenapa bercerita seperti ini membuat beratku yang tadinya bertumpuk di dada serasa pindah ke tenggorokan, dan sebagian seperti memaksa merembes dari kelopak mataku. Sungguh, aku lelah menangis, walau sepertinya memang tak ada yang lain yang bisa kulakukan selain menangis.

Langit, dari atas sana, apakah pandanganmu lebih luas dari aku? Ah, untuk apa aku bertanya pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Aku sesungguhnya hanya ingin tahu, apakah kau melihatnya saat ini? Ingin tahu di mana dia saat ini, apa yang sedang dilakukannya, dan apakah saat ini ia juga sedang menatapmu, berbicara padamu tentang aku, seperti aku berbicara tentang dia. Ataukah ia sedang berjalan di bawah temaram lampu sambil menggandeng lengan seorang gadis yang ia pandang dengan tatapan penuh cinta?

Betapa walaupun begitu besar keingintahuanku tentang dia, tapi sesungguhnya aku terlalu takut terhadap kemungkinan terakhir itu. Hingga kadang aku bersyukur, walau kadang juga ingin, bahwa aku tak mempunyai pandangan seluas engkau, karena aku pasti runtuh jika melihatnya menggenggam tangan selain tanganku.

Sesungguhnya begitu besar keinginanku untuk meneriakkan rindu di langitmu, sambil diam-diam berharap kau menggemakanya, lalu gemanya menyusup ke telinganya, lalu menyelinap ke dadanya, hingga ia benar-benar merasakan rinduku. Tapi rasanya terlalu banyak yang sudah kutumpahkan kepadamu, hingga aku sungkan merepotkanmu. Maka langit, aku hanya ingin kau menjaganya dengan pelukanmu, dampingi ia dalam bahagia maupun dukanya. Dan jika suatu hari, engkau berkenan, mintalah pada bintangmu untuk menunjukkannya jalan menuju aku. Dan pada hari itu, aku akan tetap di sini, duduk menatapmu, sambil menunggu.

*****

Ah ya, hampir saja aku lupa, terima kasih langit.

Peluk dan kecup untukmu. Selamat malam!

Read Full Post »

too good to be true

holding hands

 

jika mimpi memang hanya sekedar mimpi, meguap begitu kita membuka mata, seperti kata mereka, maka aku tak tahu apa namanya ini. merasakan jariku, di sela-sela jarimu,  inikah mimpi? maka nanti ketika kelopakku membuka, lalu akan kudapati ruang di sela-sela jariku kembali hampa?

entahlah, aku tak pernah merasakan mimpi senyata ini. dan kalau pun ini sungguh hanya sekedar mimpi, maka Tuhan, bolehkah jangan kau bangunkan aku, agar ini tak berakhir?

Read Full Post »

meracau : masa lalu

pindahan dari kicauan saya di tetangga sebelah :)

pass

kepada masa lalu, yang konon hanya bagian dari rangkaian waktu, bukankah sesungguhnya tak ada bagian yang sekedar hanya? maksudku, bukankah kau takkan mencapai menit, jika tak kau lewati 60 detik dahulu sebelumnya? bukankah mereka takkan mencapai sepuluh tanpa melalui 1, 2 , 3 sampai 9 sebelumnya? seperti halnya kekinian yang dipuja-puja, bukankah takkan bisa ditempati tanpa menjejakmu, masa lalu, terlebih dahulu?

lalu mengapa mereka meng-hanya-kan mu wahai masa lalu? sebegitu kecilkah artimu terhadap kini? apakah karena kau tak tersentuh, walau baru sedetik berlalu, maka mereka kemudian sengaja mengecilkanmu, menganggamu tak pernah ada? padahal, bukankah kau lah yang mengajarkan kami tentang rasa, tentang sesal, tentang pilihan, tentang menjadi dewasa?

wahai masa lalu, yang seringnya setengah mati dilupakan, ditiadakan, apakah salahmu pada mereka, sehingga mereka seringnya memusuhimu, menguburmu dalam-dalam, hingga dianggap seolah tak pernah ada?

ahh, maafkan aku yang banyak bertanya. tapi tahukah kau masa lalu, tadinya akupun hampir membencimu, karena membiarkan aku menangis, terluka, pada rentang masamu. hingga aku kemudian sadar, bahwa dirimu yang menjadikan diriku seperti diriku saat ini. maka bukankah aku durhaka jika begitu saja membencimu, seperti mereka?

maka alih-alih memaki, aku justru datang memelukmu untuk berterima kasih, atas luka, atas air mata, dan beberapa selingan tawa yang kau berikan untuk mengantar aku pada gerbang kekinianku. yang membentuk aku menjadi aku.

terima kasih! sungguh, terima kasih!

Read Full Post »

Older Posts »