Feeds:
Posts
Comments

Merayakan Kehilangan

Hidup ini memang selalu tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Sekuat-kuat kau perpegangan pada sesuatu, akan selalu ada cara yang membuatmu terlepas dari sesuatu yang kau genggam erat sekalipun. Sebab dia, yang mungkin kau mohon-mohon untuk tidak meninggalkanmu, sesungguhnya bukan milikmu. Dan bukankah bahkan dirimu sendiri, sesungguhnya tidak benar-benar mampu kau kendalikan nasibnya?

Ada kekuatan maha dahsyat yang ikut mengulurkan tangannya, mencampuri setiap kejadian “menemukan” dan “kehilangan” yang kau alami dalam setiap detik hidupmu. Maka relakan saja semua, sebelum sesuatu yang bukan milikmu itu benar-benar pergi.

Luka, juga bertetes-tetes air mata pasti ada. Anggaplah itu hadiah. Nikmati setiap sesak dan semua sakit yang menekan dan memukul-mukul dadamu, membuatmu susah bernafas. Hayati setiap tetes air mata yang jatuh itu. Rayakan kehilanganmu!

Rayakan? Ya! Temukan sesuatu dalam setiap sakit yang menekan dadamu, juga di antara tetes air mata yang keluar dari matamu. Sebab kehilangan tak pernah datang sendiri. Kehilangan selalu datang bersama “menemukan kembali”, maka temukan! Nikmati, hayati, rayakan, maka kelak akan kau temukan sesuatu dibalik ratapan panjangmu.

Sebab seperti kataku tadi, hidup ini memang selalu tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Siap tidak siap, suka tidak suka.

*gambar dari sini

Layu

Menanam benih, memupuk, menyirami, melihat tunasnya mulai muncul, lalu batangnya bertambah tinggi senti demi senti. Kita tersenyum, bahagia, dada kita seperti hendak meledak sebab harap yang membuncah, membayangkan suatu hari, apa yang kita tanam ini akan tumbuh subur, menjelma pohon rindang tempat kita berteduh dari panas, dan berlindung dari rintik hujan.

Namun kuasa bukan milik kita. Ada campur tangan semesta yang ikut menentukan nasib tumbuhnya pohon kita. Maka kita mulai cemas, menyaksikan bahwa di tengah perjalanan, daun-daun yang kita harap tumbuh subur, justru berubah layu, ujungnya menguning. Kita saling tatap, melakukan segala cara yang kita bisa agar mencegah pohon kita dari layu. Tapi kuningnya malah makin menjalar, dari dua, menjadi tiga, empat, dan begitu terus.

Kita mulai menahan air mata yg menggantung di sudut mata, merapal doa, terus-terusan mencegah layunya pohon kita. Namun makin keras kita berusaha, semakin banyak daun yang layu. Kita kemudian tertegun, menyadari ada rencana yang tak sejalan dengan rencana kita. Tak ingin begitu saja menyerah, tapi tak lagi punya cara.

Maka kita sekali lagi saling tatap. Namun tak ada yang beranjak dari sana. Menyaksikan pohon kita menguning, lalu beberapa daunnya gugur satu demi satu. Hanya menangis. Tak punya kuasa, tapi juga tak bisa rela.

***

Pisah memang hal yang paling sulit diucap, walaupun mungkin menjadi jalan satu-satunya. Maka kita di sini saja, entah untuk apa. Mungkin aku, atau diam-diam kamu juga, berharap daun yang kuning kembali berubah hijau. Atau yang terlanjur jatuh, kembali terbang, menempel di pucuk-pucuk ranting.

Mungkinkah?

*gambar dari sini

Barangkali

 

barangkali air mata itu memang mempunyai semacam campuran rahasia yang membuatnya istimewa. campurannya mampu meluruhkan kenangan. maka jika kau ingin melarungkan kenanganmu, jangan malu mengeluarkan tetes ajaib itu dari matamu. dan siapa tahu, dadamu lapang setelahnya, sebab setumpuk kenangan didalamnya ikut merembes keluar satu-satu dari mata ke pipimu.

 

Hampa

Semacam hampa. Tak ada yg terlintas dalam pikiran. Tak ada gelombang suara yg bergema di telinga. Tak ada cahaya yg tertangkap oleh mata.

Begitu saja beberapa lama. Sampai lalu airmata mulai jatuh satu-satu. Lalu aku tahu, aku memang tak bisa tanpa kamu.

Asal Kamu Tahu

Cintaku serupa langit dengan berbagai warnanya. Yang tak selalu menjanjikan cerah, tapi tetap tak kehilangan pesona keindahannya.

Sesekali cintaku akan dinaungi awan kelabu, lalu diikuti rintik-rintik hujan. Tapi telah kusiapkan lengkungan pelangi warna-warni setelahnya, semata-mata agar kau tetap betah.

Tentang Mengapa

Aneh, betapa di satu detik kita mati-matian memohon untuk ditinggalkan, lalu meratapi kekosongan yang kita ciptakan sendiri di detik berikutnya. Seperti aku yang kini merutuki keputusanku memaksamu merubah arahmu agar tak lagi menuju ke arahku. Berharap aku bisa mengejarmu yang merubah arah dengan berat hati, tapi tahu benar bahwa sepahit-pahitnya, detik yang terlanjur terlalui takkan bisa diulang kembali. Seperti luka yang kutoreh terhadap kamu, takkan lagi bisa hilang walau coba kuobati.

Tak pernah aku tahu bahwa ternyata meninggalkan tidak semelegakan kedengarannya. Jika kau pikir ditinggalkan saja sudah terasa demikian sakitnya, maka percayalah, meninggalkan berkali-kali terasa lebih buruk. Terlebih jika meninggalkan adalah soal merelakan kamu, yang sesungguhnya lebih kucintai daripada diriku sendiri.

“Lalu kenapa berpisah, jika memang cinta itu belum kemana-mana? Kenapa memaksa meniadakan yang ada?”

Pertanyaanmu berulang-ulang di kepalaku. Berharap memiliki keberanian untuk menjelaskan, bahwa sesungguhnya aku begitu mencintaimu hingga lebih takut kehilangan dirimu dibanding kehilangan diriku sendiri. Membuatmu mengerti bahwa segala yang kulakukan tak lebih dari ketakutan akan datangnya hari dimana cinta itu benar-benar pergi, meninggalkan kita dalam kehampaan yang menyiksa.

Ketakutan akan sakit yang lalu membuatku gemetar hebat, lalu menyadarkanku bahwa tak mungkin aku sanggup bertahan jika suatu hari kamu mengepak setiap bagian dari kita dalam satu kotak besar, lalu menghanyutkannya bersama aliran air sungai di samping rumah. Kemudian berjalan menjauh ke arah tenggelamnya matahari, tak kembali. Segala ketakutan yang kemudian membuatku memaksamu pergi sebelum kau benar-benar memutuskan pergi.

Maka jika bisa kuberikan penjelasan, jawaban, atas pertanyaan mengapa berpisah jika cinta belum kemana-mana, izinkan aku memberitahumu sesuatu. Tapi berjanjilah untuk tak lagi bertanya sesudahnya.

Dengarlah! Ini bukan soal ada atau tiadanya cinta. Hanya saja, sering terjadu seseorang meninggalkan karena takut ditinggalkan. Itu saja!

*****

RT @anmansyur : Sering terjadi seseorang meninggalkan karena takut ditinggalkan.

Sent: Nov 19, 2010 12:45a
sent via ÜberTwitter

On Twitter: http://twitter.com/aanmansyur/status/5315621331927040

Warna Cinta

truelove

 

Cinta seperti warna, lebih mudah dinikmati, dirasakan, dan dimaknai sendiri, dibanding ketika mencoba menjelaskannya melalui media kata-kata. Mintalah seseorang menjabarkan bagaimana biru, maka dia kemungkinan akan diam, bingung merangkai kata untuk mendeskripsikannya. Tapi mintalah ia menunjukkan biru, maka ia akan menunjukkan mulai dari hamparan langit, sampai bentangan samudra, hingga kau tahu apa itu biru.

Begitupun cinta. Jika kau pinta aku menjabarkan cinta, maka aku akan diam. Namun cobalah minta aku menunjukkannya, maka aku akan berdiri di sampingmu, di tengah senyumanmu, atau diantara luapan kemarahanmu. Dari kulitmu segar dan kenyal, hingga ia melar kalah oleh gravitasi. Dari mulai rambutmu hitam lebat, hingga kepalamu hanya menyisakan sedikit saja rambut yang memutih.

Dan kau pun akan tahu!