Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘talking talk’ Category

You Are..

Kamu sesederhana gula di atas donat. Gula saja, putih. Tanpa coklat, tanpa selai warna-warni. Ada untuk menyempurnakan rasa.

Advertisements

Read Full Post »

Barangkali

 

barangkali air mata itu memang mempunyai semacam campuran rahasia yang membuatnya istimewa. campurannya mampu meluruhkan kenangan. maka jika kau ingin melarungkan kenanganmu, jangan malu mengeluarkan tetes ajaib itu dari matamu. dan siapa tahu, dadamu lapang setelahnya, sebab setumpuk kenangan didalamnya ikut merembes keluar satu-satu dari mata ke pipimu.

 

Read Full Post »

Hampa

Semacam hampa. Tak ada yg terlintas dalam pikiran. Tak ada gelombang suara yg bergema di telinga. Tak ada cahaya yg tertangkap oleh mata.

Begitu saja beberapa lama. Sampai lalu airmata mulai jatuh satu-satu. Lalu aku tahu, aku memang tak bisa tanpa kamu.

Read Full Post »

Tentang Mengapa

Aneh, betapa di satu detik kita mati-matian memohon untuk ditinggalkan, lalu meratapi kekosongan yang kita ciptakan sendiri di detik berikutnya. Seperti aku yang kini merutuki keputusanku memaksamu merubah arahmu agar tak lagi menuju ke arahku. Berharap aku bisa mengejarmu yang merubah arah dengan berat hati, tapi tahu benar bahwa sepahit-pahitnya, detik yang terlanjur terlalui takkan bisa diulang kembali. Seperti luka yang kutoreh terhadap kamu, takkan lagi bisa hilang walau coba kuobati.

Tak pernah aku tahu bahwa ternyata meninggalkan tidak semelegakan kedengarannya. Jika kau pikir ditinggalkan saja sudah terasa demikian sakitnya, maka percayalah, meninggalkan berkali-kali terasa lebih buruk. Terlebih jika meninggalkan adalah soal merelakan kamu, yang sesungguhnya lebih kucintai daripada diriku sendiri.

“Lalu kenapa berpisah, jika memang cinta itu belum kemana-mana? Kenapa memaksa meniadakan yang ada?”

Pertanyaanmu berulang-ulang di kepalaku. Berharap memiliki keberanian untuk menjelaskan, bahwa sesungguhnya aku begitu mencintaimu hingga lebih takut kehilangan dirimu dibanding kehilangan diriku sendiri. Membuatmu mengerti bahwa segala yang kulakukan tak lebih dari ketakutan akan datangnya hari dimana cinta itu benar-benar pergi, meninggalkan kita dalam kehampaan yang menyiksa.

Ketakutan akan sakit yang lalu membuatku gemetar hebat, lalu menyadarkanku bahwa tak mungkin aku sanggup bertahan jika suatu hari kamu mengepak setiap bagian dari kita dalam satu kotak besar, lalu menghanyutkannya bersama aliran air sungai di samping rumah. Kemudian berjalan menjauh ke arah tenggelamnya matahari, tak kembali. Segala ketakutan yang kemudian membuatku memaksamu pergi sebelum kau benar-benar memutuskan pergi.

Maka jika bisa kuberikan penjelasan, jawaban, atas pertanyaan mengapa berpisah jika cinta belum kemana-mana, izinkan aku memberitahumu sesuatu. Tapi berjanjilah untuk tak lagi bertanya sesudahnya.

Dengarlah! Ini bukan soal ada atau tiadanya cinta. Hanya saja, sering terjadu seseorang meninggalkan karena takut ditinggalkan. Itu saja!

*****

RT @anmansyur : Sering terjadi seseorang meninggalkan karena takut ditinggalkan.

Sent: Nov 19, 2010 12:45a
sent via ÜberTwitter

On Twitter: http://twitter.com/aanmansyur/status/5315621331927040

Read Full Post »

merdeka

Lima orang anak berbaris, membawa sendok dengan mulutnya. Lalu seseorang, lelaki,  yang jauh lebih tua dari mereka, meletakkan masing-masing sebutir kelereng di sendok yang pasrah digigiti. Lelaki tadi lalu memberi aba-aba, dan kelima anak itu, tiga laki-laki dan dua perempuan, berlomba menuju garis di ujung satunya, masih dengan sendok di mulutnya. Beberapa yang menjatuhkan kelereng dari sendok di mulut mereka, terpaksa berlari kembali ke garis awal, mengulangi usahanya, terus begitu, sampai akhirnya berhasil mencapai garis akhir di sisi satunya.

Di tempat lain, beberapa pria dewasa menanggalkan baju mereka, bertelanjang dada. Lalu mati-matian memanjat sebuah batang pinang yang tampak tak biasa. Tak biasa karena selain batangnya seperti sudah dilumuri oli kehitaman, batang ini juga tak lagi berbuah pinang, tapi televisi, sepeda, radio, sampai panci. Satu persatu mengambil giliran untuk mencoba naik sampai ke ujung, mencoba meraih hadiah apapun yang mampu mereka raih, walau seringnya sebelum setengah batang pun mereka sudah terpeleset jatuh ke tanah. Hingga lalu mereka berinisiatif untuk saling menopang, yang paling besar tubuhnya berdiri di paling bawah, lalu seseorang yang lebih kecil berdiri di bahunya, lalu seorang yang lebih kecil lagi berdiri di bahu orang kedua, sampai satu yang paling kecil berdiri di paling atas tumpukan manusia itu. Si kecil berhasil menjangkau puncak pinang, diraihnya semua sejadi-jadinya, semampu-mampunya. Lalu mereka berpelukan bahagia setelahnya, merayakan keberhasilan strategi mereka.

Bendera merah putih yang setahun sekali mendapati kebebasannya untuk berkibar, bersentuhan dengan angin, tampak melambai gembira di tiang-tiang yang dadakan di pasang di muka setiap rumah. Gapura dengan tulisan semboyan-semboyan nasionalisme menghiasi bibir-bibir gang. Umbul-umbul warna-warni tak mau kalah, meliuk-liuk meramaikan suasana.

Inilah potret negeriku. Negeri yang setahun sekali menyaksikan euforia warganya yang mendadak meningkat tajam kadar nasionalismenya. Negeri yang sibuk membuat perayaan semegah-megahnya, hingga lupa memperpanjang waktu mengheningkan cipta, lupa menyelipkan rasa terima kasih dan menyelipkan doa untuk mereka-mereka yang berkorban jiwa dan raga demi kita menghirup udara merdeka, menuntut ilmu tanpa ancaman moncong-moncong senjata. Negeri yang tetap riang, walau kecintaan para penghuninya tumbuh subur hanya di satu dari dua belas bulan yang ada.

Aku mungkin satu dari sekian banyak penduduk negeri ini yang ditulari euforia nasionalisme dadakan ini. Mendadak ikut-ikutan membicarakan soal nasionalisme musiman, padahal belum setetespun darahku kupersembahkan sebagai bentuk pengabdianku pada negeri ini. Belum ada buah pemikiranku yang berhasil memberikan sesuatu untuk negeriku ini. Tapi bagaimanapun, akan kujawab setiap pertanyaan yang mempertanyakan kecintaanku pada negeri ini dengan jawaban “YA” mantab, tanpa setitikpun keragu-raguan membersit.

Mungkin belum ada bukti yang benar-benar nyata atas kecintaanku pada negeri ini. Tapi cintaku nyata, senyata udara yang tak terlihat, tapi dapat kau rasa menepis lembut pipimu. Bukti cintaku paling ekstrem sejauh ini mungkin apa yang kulakukan beberapa hari yang lalu.

****

Suatu malam , dua hari setelah hari kemerdekaan…

1 new message

from : him

nonton tv anu gak?

pas banget temanya sama aku,

kurang bangga jadi warga Negara Indonesia

19/08 – 10:42 PM

Entah karena apa, atau kalau boleh saya yakini karena cinta, saya merasa tertusuk oleh sederet kata-kata dalam pesan pendek yang baru saya terima. Pesan singkat itu saya terima dari seseorang yang harusnya saya hujani kata mesra, tapi dia menyakiti sesuatu dalam diri saya lewat pesannya barusan. Panggil saya berlebihan, tapi darah saya rasanya mendidih, mata saya berkaca-kaca, singkatnya, saya sakit hati!

Maka dengan tangan gemetar menahan emosi saya pilih menu “balas” untuk pesan barusan.

create message

to : him

kalo gak bangga sana gih pindah.

malu dong, gak bangga tapi nafas, makan,

minum, hidup, masih numpang di Indonesia.

kalo kata Ian di 5 cm sih, “yang berani nyela Indonesia, ribut sama gue!!”

19/08 – 10:52 PM

message sent!

Lalu kami bertengkar hebat malam itu, karena Indonesia. Saya ogah menyerah, saat itu tidak ada keraguan saya untuk mati-matian membela negara yang deretan pulaunya tercetak di kartu identitas saya, tanpa memberi sedikit pun ruang untuk kompromi pada dia, yang seringnya membuat saya tak pernah kehabisan toleransi. Yang satu ini pengecualian, tak ada toleransi. Nasionalisme saya yang seada-adanya memberontak, membuat dia menutup malamnya dengan meminta maaf.

Saya lega!

****

Sedangkal itu pemahaman saya tentang nasionalisme. Tapi nasionalisme saya yang seadanya, tidak mengurangi setetespun kecintaan saya terhadap negeri gemah ripah loh jinawi ini. Negeri yang di atasnya terhampar hutan luas paru-paru dunia, yang di bawahnya tersimpan gas, minyak, timah, tembaga dan bahkan emas. Negeri yang kaya raya, negeri yang kaya budaya. Walaupun mungkin hingga kini, tak semua dari kami mencicipi kekayaannya. Negeri yang katanya semerawut, yang disebut terpuruk, negara kelas tiga.

Apapun, aku cinta negeri ini. Negeri yang menyuburkan tanahnya demi memastikan bahwa perut segenap rakyatnya tetap terisi. Negeri yang tak henti mengalirkan airnya untuk memuaskan dahaga segenap penduduknya. Negeri yang menopang kaki-kaki dan rumah-rumah dengan kokoh, walau sesekali kelelahan lalu kehilangan keseimbangan, bergetar sebentar, membuat beberapa rumah yang seharusnya ditopangnya justru menjadi roboh. Negeri yang diam-diam menangis, karena sadar dirinya mulai tua, tapi justru semakin sering diabaikan, karena warga yang setengah mati dicintainya, hingga membuatnya rela memberi segala yang ia punya untuk mereka, seringnya justru melupakannya, sibuk dengan urusan perut dan kantongnya sendiri-sendiri.

Wahai negeri, dengan lantang kuteriakkan ke arah langitmu, di bawah benderamu yang melambai-lambai tanpa lelah, bahwa dari sekian banyak yang lupa, aku ingat! Aku bersyukur menjadi bagian dari tanahmu yang kaya.

Dirgahayu negeriku!

Aku cinta kau, Indonesia!

Read Full Post »

dadysgirl

Selama ini, setiap berbicara tentang orang tua, seringnya aku hanya terbayang tentang ibu, yang meminjamkan separuh nyawanya padaku selama sembilan bulan aku menumpang hidup di rahimnya. Yang membawaku di perutnya kemanapun ia pergi  tanpa sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya. Yang bercucuran darah demi mengantarkanku hadir di dunia. Ibu, selalu ibu. Dan tentu saja ibu pantas mendapat segala penghormatan itu, bahkan lebih dari pantas, tepatnya harus. Betapa rugi, dan teganya mereka yang menyia-nyiakan segala pengorbanan yang dilakukan ibu.

Tapi kemudian aku telat menyadari satu sosok lain, yang tak kalah penting perannya dengan ibu. Sosok yang walaupun tak membawaku di perutnya, tapi selalu menyimpanku di hatinya. Sosok yang paling gelisah ketika ibu menjerit kesakitan di ruang bersalin saat mengantarkan hadirku di dunia. Dia yang berdoa semoga istri, dan anak kesayangan, yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya, selamat. Dia yang walaupun tak mengorbankan darah, tapi memeras keringatnya demi memberikan putri kesayangannya kehidupan yang layak. Dia, sosok itu, ayah.

Sering luput dari perhatianku betapa kasih sayang ayah tak sedikit pun lebih kecil dari kasih sayang ibu. Sesungguhnya kasih itu sama besarnya, kalau saja aku memperhatikan. Tapi dari beberapa yang luput dari perhatianku, ada beberapa yang kuingat tentang kasih ayah yang jelas nyata kurasa, meski terlambat kusadari.

Aku ingat saat aku berusia sekitar 3 atau 4 tahun, atau ini bahkan mungkin terjadi sejak usiaku lebih kecil, hanya saja ya itu tadi, hal ini begitu saja luput dari perhatianku. Saat itu, setiap selesai menjalankan kewajiban solatnya, ia memintaku duduk di pangkuannya dengan isyarat tangannya. Aku kemudian tanpa bicara mendatangi sejadah, lalu duduk di pangkuannya, sesuai perintahnya. Dan kemudian ia mengambil telapak tanganku meletakkannya di atas telapaknya lalu menengadahkan tangan itu dan mengajakku berdoa. Aku tak tahu pasti apa yang ia rapalkan dalam doanya, yang kuingat adalah pada sela-sela doanya, ia berkali-kali menciumi kepalaku, sambil berselawat. Tangan yang menengadah, ciuman, serta rapalan doa itu tak kumengerti maknanya pada saat itu. Tapi kini, saat aku mengingatnya kembali, tenggorokanku terasa tercekat dan mataku basah oleh air mata. Air mata bahagia karena beruntung telah hidup dengan aliran doa ayah di dalam tubuhku.

Saat aku menginjak usia sekolah,kesempatanku bermain-main dengan ayah berkurang. Ayah bekerja sejak sore, hingga dini hari, dan ini otomatis membuatnya harus menambah waktu tidurnya di pagi hari, sehingga hanya ciuman di pipi kanan kiri dan pesan untuk belajar sungguh-sungguh yang kudapat saat menghampirinya pamit untuk pergi ke sekolah, itu pun hanya dari atas tempat tidurnya. Ia tidak mengantarku sampai ke pintu, tapi aku mengerti, bahkan pada usia itu pun aku mengerti, bahwa ayah butuh istirahat. Di siang hari, saat aku pulang sekolah, ayah sering menyiratkan bahwa sesungguhnya ia ingin bermain-main denganku, tapi aku yang baru kembali dari sekolah terlalu lelah untuk bermain, dan lebih memilih untuk beristirahat tidur. Dan sore hari, saat aku bangun, ayah sudah terlanjur berangkat bekerja.

Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu pasti ayah merindukanku. Karena diam-diam setiap dia baru tiba di rumah sepulang ia bekerja, ia menghampiri kamarku, bahkan sebelum dia menghampiri ibu, membenarkan letak selimutku, lalu menciumiku yang lelap dalam tidurku. Dan kadang, jika aku sedang rindu, aku sengaja membiarkan diriku tertidur di ruang tv, semata-mata hanya agar aku punya kesempatan digendong ayah, yang tak pernah tega membagunkanku untuk berjalan sendiri ke kamarku. Dan sesungguhnya aku selalu terbangun tiap kali ayah melakukan itu, tapi aku sengaja pura-pura tidur untuk tetap berada dalam gendongannya.

Betapa sesungguhnya aku punya begitu banyak kenangan tentang ayah, yang seringnya kulupakan saat ia memarahiku saat aku terlalu malam pulang ke rumah, atau saat dia menolak permintaanku untuk membeli sesuatu. Dan saat itu, dengan teganya, aku justru menuduhnya tak memberiku cukup kebebasan, cukup kepercayaan, dan tak hanya itu, aku bahkan menuduhnya tak cukup sayang padaku untuk meluluskan permintaanku. Padahal yang kusebut tak cukup sayang itu bisa jadi justru rasa sayangnya yang kusalahartikan. Seperti ketika aku menolak permintaan adikku yang terus-terusan meminta permen, bukan karena aku tak sayang padanya, tapi justru karena aku peduli dan tak ingin giginya rusak karena terlalu banyak memakan permen. Ya, pasti begitu maksud ayah. Dan yang kusebut tidak memberi cukup kebebasan dan kepercayaan itu sesungguhnya adalah rasa sayang yang begitu besar, hingga membuatnya khawatir bahwa sesuatu akan menimpaku saat aku luput dari penjagaannya

Maka, ayah, atas segala kasih sayang yang luput dari perhatianku, yang menyebabkan aku begitu saja menuduhmu, dan menyebabkanku menyakiti hatimu, aku mohon maaf. Atas segala pengorbananmu yang begitu saja kuabaikan, aku berterima kasih. Dan atas segala doa yang tak henti kau rapalkan, aku sungguh-sungguh mengucap syukur.

Dan, ayah, mungkin aku takkan mampu membalas apa yang telah kau, dan ibu lakukan. Tapi ayah, aku akan berusaha semampuku membahagiakan kalian dengan yang kupunya. Dan sungguh ayah, aku tahu itu pun takkan pernah cukup membalas segala yang kau lakukan untukku. Maka ayah, kali ini biar aku yang menengadahkan tanganku, sambil menciumi pipimu, dan memohonkan segala kebaikan untukmu dan ibu kepada Sang Pemilik Segala. Karena sungguh ayah, atas segala kasih sayang yang kalian curahkan, tak ada yang lebih pantas membalas selain Sang Maha Penyayang. Maka kepada-Nya lah aku berdoa.

Rabbighfirlii Wali wali Dayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayani Shaghiraaa.

* ditulis setelah membaca bab “Ayah” di novel Rahim karya Fahd Djibran

Read Full Post »

sumas

Read Full Post »

Older Posts »