Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘meracau’

Jatuh Cinta Berkali-kali

image

Ada seorang laki-laki. Laki-laki yang tidak langsung membuatku jatuh cinta di sapaan pertama, atau kedua, atau ketiga, atau ribuan sapaan sesudahnya. Butuh banyak purnama terlewat sebelum akhirnya sapanya terasa berbeda.

Dan sekali mataku menangkap jiwanya, rasanya tak lagi aku bisa berpaling. Banyak hal yang ternyata membuat dia istimewa. Dan begitu saja, lalu cinta itu jatuh. Dan sekali jatuh, rasanya aku tak bisa menahan untuk jatuh lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi.

Read Full Post »

You Are..

Kamu sesederhana gula di atas donat. Gula saja, putih. Tanpa coklat, tanpa selai warna-warni. Ada untuk menyempurnakan rasa.

Read Full Post »

Kamu terperangkap!

Dan jika aku bertahan dan memilih menyandarkan hidupku hanya pada kamu, bukan karena aku takut menyakiti kamu, tapi lebih karena aku tak ingin menyakiti diriku sendiri.

***

Posted with WordPress for BlackBerry.

Read Full Post »

Barangkali

 

barangkali air mata itu memang mempunyai semacam campuran rahasia yang membuatnya istimewa. campurannya mampu meluruhkan kenangan. maka jika kau ingin melarungkan kenanganmu, jangan malu mengeluarkan tetes ajaib itu dari matamu. dan siapa tahu, dadamu lapang setelahnya, sebab setumpuk kenangan didalamnya ikut merembes keluar satu-satu dari mata ke pipimu.

 

Read Full Post »

Hampa

Semacam hampa. Tak ada yg terlintas dalam pikiran. Tak ada gelombang suara yg bergema di telinga. Tak ada cahaya yg tertangkap oleh mata.

Begitu saja beberapa lama. Sampai lalu airmata mulai jatuh satu-satu. Lalu aku tahu, aku memang tak bisa tanpa kamu.

Read Full Post »

Asal Kamu Tahu

Cintaku serupa langit dengan berbagai warnanya. Yang tak selalu menjanjikan cerah, tapi tetap tak kehilangan pesona keindahannya.

Sesekali cintaku akan dinaungi awan kelabu, lalu diikuti rintik-rintik hujan. Tapi telah kusiapkan lengkungan pelangi warna-warni setelahnya, semata-mata agar kau tetap betah.

Read Full Post »

meracau : masa lalu

pindahan dari kicauan saya di tetangga sebelah :)

pass

kepada masa lalu, yang konon hanya bagian dari rangkaian waktu, bukankah sesungguhnya tak ada bagian yang sekedar hanya? maksudku, bukankah kau takkan mencapai menit, jika tak kau lewati 60 detik dahulu sebelumnya? bukankah mereka takkan mencapai sepuluh tanpa melalui 1, 2 , 3 sampai 9 sebelumnya? seperti halnya kekinian yang dipuja-puja, bukankah takkan bisa ditempati tanpa menjejakmu, masa lalu, terlebih dahulu?

lalu mengapa mereka meng-hanya-kan mu wahai masa lalu? sebegitu kecilkah artimu terhadap kini? apakah karena kau tak tersentuh, walau baru sedetik berlalu, maka mereka kemudian sengaja mengecilkanmu, menganggamu tak pernah ada? padahal, bukankah kau lah yang mengajarkan kami tentang rasa, tentang sesal, tentang pilihan, tentang menjadi dewasa?

wahai masa lalu, yang seringnya setengah mati dilupakan, ditiadakan, apakah salahmu pada mereka, sehingga mereka seringnya memusuhimu, menguburmu dalam-dalam, hingga dianggap seolah tak pernah ada?

ahh, maafkan aku yang banyak bertanya. tapi tahukah kau masa lalu, tadinya akupun hampir membencimu, karena membiarkan aku menangis, terluka, pada rentang masamu. hingga aku kemudian sadar, bahwa dirimu yang menjadikan diriku seperti diriku saat ini. maka bukankah aku durhaka jika begitu saja membencimu, seperti mereka?

maka alih-alih memaki, aku justru datang memelukmu untuk berterima kasih, atas luka, atas air mata, dan beberapa selingan tawa yang kau berikan untuk mengantar aku pada gerbang kekinianku. yang membentuk aku menjadi aku.

terima kasih! sungguh, terima kasih!

Read Full Post »

drops of jupiter

Menatap langit aku malam ini, walau tak ada apa-apa menemani gelapnya. Tak bulan, tak juga bintang. Langit hanya berisi gelap, kosong, sekosong hatiku yang terpaku menatap gelapnya.

Bukan pesona langit yang menahanku berdiri menengadah menatap ke arahnya malam ini. Aku menatap langit sambil diam-diam mengulang doa dalam hati, berharap sebuah cahaya putih yang baru saja kulepas pergi dan menghilang di ujung langit kembali muncul, mendekat, lalu tersenyum ke arahku.

Cahaya yang kutunggu ini bukan bintang, bukan juga ekor komet. Cahaya ini adalah belahan hatiku, atau mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya ‘hatiku’ saja. Karena sepeninggal cahayanya yang kusaksikan menghilang di ujung langit -entah sudah berapa lama- aku hanya mampu berdiri terdiam, tak bergerak, tak melakukan apa-apa, selain tetap memandang langit, sambil terus-terusan merapal harap agar dia kembali muncul, memutar haluan, berubah pikiran, lalu berbalik ke arahku.

***

Aku ingin mengejar mimpiku, menjelajahi konstelasi, membangun rumah indah di Jupiter, lalu sesekali pelesir ke venus jika penatku datang.”

Wanita itu memecah keheningan di antara kami suatu hari, saat kami asik menjalankan kegiatan kesukaan kami, memandang langit penuh bintang. Pernyataan yang membuat aku kaget hingga tersedak air liurku sendiri. Akhir-akhir ini penduduk bumi memang berbondong-bondong pindah ke Jupiter. Bumi katanya bukan lagi tempat yang nyaman untuk ditinggali, terlebih sejak isu pemanasan global ramai jadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Jupiter? Kenapa harus begitu jauh? Kenapa tak di sini saja kau bangun rumahmu, lalu aku menemanimu pelesir kapanpun kau merasa bosan?” Jawabku sambil masih terbatuk-batuk mengatur nafas, setengah panik, setengah berharap dia bercanda barusan.

Aku takkan sekaget ini jika yang mengatakan ini adalah orang lain, yang hanya gemar bermimpi, dan tak benar-benar yakin akan mimpinya. Masalahnya kalimat mengejutkan itu baru saja kudengar dari mulut wanita paling ambisius yang pernah kutemui dalam hidupku, dan jika dia mengatakan bahwa dia ingin sesuatu, maka akan dikejarnya keinginannya itu sampai dia benar-benar mendapatkannya.

“Aku sudah muak tinggal di bumi. Muak melihat kekacauan di planet biru ini. Di sini, yang benar diperlakukan sebagai pendosa, dan yang bersalah justru mati-matian dipuja dan dihormati, yang rasanya membuat nuraniku tak lagi tentram. Teriakanku tak terdengar, dan aku lelah melihat semuanya berjalan salah. Aku harus mencari rumah baru yang memberiku rasa tentram dan kenyamanan. Dan kabarnya, Jupiter memiliki itu semua. Planet hijau itu kini kuidamkan untuk jadi tempatku beranjak tua.” Jelasnya panjang lebar dengan intonasi yang menggebu-gebu, bak aktivis yang hobi orasi di pelataran gedung hijau, semangat yang menyebabkan aku hilang kata.

Benar-benar harus sebegitu jauh?” Tanyaku akhirnya, memecah kesunyian yang tercipta semenjak dia mengakhiri pernyataan menggebunya soal bumi yang tak lagi nyaman untuk nuraninya.

Ya!” Jawabnya sambil mengangguk mantab. “Dan sesungguhnya ini bukan tentang jarak, ini tentang petualangan, petualangan menemukan tempat yang membuat nurani kita tentram. Karena jika bukan aku, tak ada seorang pun yang akan mendengarkan nuraniku. Dan jika nurani ini mendambakan petualangan, maka akan kuajak dia berpetualang.” katanya sumringah dan penuh semangat, sambil merenggangkan kedua tangannya seolah memeluk langit luas.

Lalu aku bagaimana? Kalau kamu pergi, aku sendiri.

Kuungkapkan juga akhirnya ketakutanku. Dia lalu menoleh memandang wajahku, lalu tersenyum dengan senyuman menenangkan. Rupanya kekhawatiranku tertangkap oleh radarnya. Ya, memang selain ambisius, wanita di sampingku ini mempunyai radar hebat yang mampu mendeteksi perasaan orang lain, kadang terkesan sok tahu, walau seringnya benar.

Kamu bisa ikut aku, kita bangun rumah kita di sana, berdua.

Aku terdiam. Dia masih tersenyum. Aku memalingkan wajah, lalu sunyi kembali menguasai. Memberikan aku dan dia waktu untuk sibuk dengan pikiran kami masing-masing. dan di sela-selanya, aku mencari cara untuk coba menahannya dari pergi jauh ke planet hijau dambaannya.

Entahlah!” kataku akhirnya kembali memecah keheningan. “Di sana kau mungkin akan kesulitan menemukan kentang dan ayam goreng kesukaanmu.”

Dia tertawa, lalu menjawab sambil bercanda. “Tidakkah kau tahu, planet hijau itu planet mimpi. Hal yang katanya tak mungkin di bumi, bisa terjadi di sana. Di halaman rumahku nanti, akan kubangun rumah kaca, tempatku menyilangkan berbagai jenis tanaman, hingga kudapati satu yang berbuah kentang dan ayam goreng di pucuk-pucuk pohonnya. Jadi ketakutanmu itu bukan masalah bagiku.” katanya masih tertawa.

Tawanya membuat aku frustasi. Sepertinya dia benar-benar tak lagi mudah digoyahkan. Dan aku? Ah, aku ini laki-laki pengecut. Jangankan berpetualang ke lain planet, saat ditantang pergi ke negara asing hanya bermodal ransel dan uang secukupnya pun aku sudah mentah-mentah menolak. Tak apalah jika tantangan itu berlaku di wilayah negara yang masih berbendera merah putih ini, setidaknya masih kumengerti bahasa penduduk-penduduknya. Tapi jika harus mengadu nasib tanpa benar-benar tahu cara berkomunikasi, aah, maaf-maaf saja, aku tak bernyali.

Dan jika untuk itu pun tak mampu kukumpulkan nyaliku, maka bagaimana dengan ini, wanita ini menantangku melintas planet, berpetualang katanya. Mungkin petualangan baginya, tapi itu absurd bagiku. Aku menyebut diri sendiri konservatif, gak neko-neko. Walau kebanyakan orang lebih setuju menyebutku pecundang. Dan ini pula yang membuat mereka berani bertaruh bahwa hubunganku dengan gadis petualang ini takkan bertahan lama, karena kami dinilai terlalu berbeda, walau akhirnya kami membuktikan bahwa mereka salah, setidaknya sampai saat ini, saat dia mengungkapkan rencananya pindah ke Jupiter.

Tak bisakah kau pikirkan lagi rencanamu itu? Aku tak tahu bagaimana melanjutkan hidupku tanpa pembicaraan panjang kita di bawah langit berbintang. Aku tak tahu cara memejamkan mata tanpa dongeng panjang yang kau ceritakan setengah berbisik di ujung telepon, yang baru kau hentikan saat aku terlelap. Aku tak tahu…

Aku tak mampu menyelesaikan kalimatku. Tenggorokanku tercekat. Air menggantung di pelupuk mataku. Tak pernah aku sampai lepas menangis di hadapannya, tapi kali ini, biarlah kuabaikan ego kelaki-lakianku, jika saja air mata ini mampu menahannya dari petualangan absurdnya. Karena jujur saja, walau hati ini terlanjur jadi miliknya, terlalu berat mengorbankan diri meninggalkan tanah lahirku demi memuaskan mimpi wanita kecintaanku ini.

Kamu akan baik-baik saja!” katanya tersenyum

Aku takkan baik-baik saja” jawabku dengan suara tertahan

Kamu akan baik-baik saja!” katanya sekali lagi, meyakinkan, walaupun kulihat matanya pun mulai berkaca-kaca.

Mimpiku adalah membangun rumah kami di sini, di bawah langit yang katanya memanas, di atas negeri yang katanya semerawut, bersama dia. Menjadi tua bersama, menjadi saksi setiap helai rambutnya hitam lebatnya yang menipis dan berubah abu-abu. Hingga pada suatu hari kembali menyatu bersama tanah tempat aku dilahirkan. Sedangkan mimpinya adalah berpetualang, menjelajahi dunia, planet, dan jika tak juga puas, bisa jadi dia kemudian akan berpindah dari satu galaksi, ke galaksi yang lain. Hingga pada masanya nanti petualangannya terhenti, entah di mana.

Dan aku percaya, tak ada mimpi yang boleh dikorbankan. Jika kemudian mimpi kami berbeda, tak ada yang boleh saling menahan mimpi, betapa pun besarnya cinta yang terlanjur tumbuh subur.

Maka dengan iringan air mata, aku lepas dia terbang melintas langit, menuju Jupiter, planet hijau, rumahnya yang baru.

***

Air mataku sesungguhnya sudah mengering, entah sejak kapan. Tapi tubuhku masih di sini, berdiri di tempat aku terakhir melambaikan tangan, mengucap selamat tinggal sambil berkali-kali menyeka ujung mata yang basah, mengulang-ngulang doa agar dia kembali. Di sana, di planet hijau, bisa jadi dia sedang sibuk menyilang pohon yang satu dengan yang lain, sambil sesekali mendendangkan lagu ceria dari bibirnya yang merah. Atau, bisa jadi, dia justru sudah berhasil menemukan varian pohon baru, dan saat ini sedang sibuk memanen kentang dan ayam goreng dari pohonnya.

Sosoknya melekat di otakku, selekat lintah-lintah yang menempel di kaki para ibu yang sibuk mencuci di pinggir kali. Dan aku tak henti mengharap pada Tuhan untuk menghadirkan aku di otaknya, agar siapa tahu dia berubah pikiran, lalu memutuskan kembali pulang, bertemu aku.

Semoga

*****

Wahai wanita, aku menunggumu pulang, menunggumu merindukan aku, merindukan kita, di tempat yang sama dimana aku melambai melepasmu pergi. Dan bila saatnya tiba, aku akan memelukmu yang datang dengan sisa-sisa debu Jupiter di jaketmu. Dan peluk itu takkan kulepas, hingga kau takkan bisa pergi lagi, di sini saja, di pelukku.

Bila saja kamu kembali…

Read Full Post »

Yang Belum Juga Hilang

cloth

Selembar kain di genggamanku. Warnanya putih, sulamannya indah. Nyaris sempurna, jika saja tak ada noda mengganggu di salah satu sisinya, itupun jika boleh kusebut ia noda. Sesungguhnya yang kusebut noda itu tak membuat kain di genggamanku menjadi lebih buruk. Yang kusebut noda ini harusnya bisa saja diabaikan, dianggap sebagai bagian dari kain dalam genggamanku. Tapi entahlah, seindah-indahnya sesuatu yang kusebut noda itu, tetap saja ada yang terasa menggangguku jika kubiarkan ia di sana.

Maka kuambil segenggam deterjen dan setimba air untuk merendam kain dalam genggaman, agar tak ada lagi sesuatu yang kusebut noda itu di antara indah sulamannya. Kucuci, bilas, lalu kugantung di tiang jemuran sesudahnya. Namun tahukah kau, sesuatu yang kusebut noda itu belum bergeser sesenti pun dari tempatnya.

Maka kuulangi lagi langkah-langkah tadi. Hanya saja, kali ini kugunakan deterjen yang lebih baik, setidaknya begitu kata mereka di iklan-iklan yang muncul di sela-sela acara kesukaanku di televisi. Tak juga berhasil! Maka kuulangi sekali lagi, kali ini bukan menggunakan deterjen yang lebih baik, tapi yang paling baik, tentu saja lagi-lagi itu kata-kata yang kukutip dari iklan di televisi. Namun yang terbaik pun, ternyata masih belum bisa meniadakan sesuatu yang kusebut noda, yang masih melekat kuat di sela-sela sulaman.

Aku hilang akal. Sesuatu yang kusebut noda ini tak bisa kukendalikan, bahkan saat aku mengerahkan yang terbaik untuk mengusirnya pergi.

*****

Baiklah, mungkin kalian bingung mengapa aku begitu ingin sesuatu yang kusebut noda ini pergi. Maka akan kuberitahu sebuah rahasia. Sesuatu yang kini kusebut noda ini dulunya tak kusebut demikian, dan sesungguhnya, justru aku yang sengaja melukisnya di sana. Kulukis dengan cat kain yang paling bagus kualitasnya, ku goreskan setiap garis dan lekukannya perlahan, sepenuh hati, tak ingin sedikitpun membuat kesalahan, dulu, suatu waktu.

Kini, garis dan lekuk itu tak terlihat seindah dulu saat aku mencurahkan hatiku untuk menambahkannya di atas kainku. Jangan tanya kenapa, aku hanya merasa ia tak lagi indah di mataku, sekarang ia tak lebih dari pengganggu di kainku yang sulamannya indah. Biarlah terlihat lebih sepi tanpa lukisan, tak apa, yang penting tak ada lagi yang mengganggu pandanganku. Maka aku akan terus-terusan mencoba, takkan menyerah, sampai sesuatu yang kusebut noda ini menghilang, dan kainku kembali bersih, tanpa noda.

Oh ya, mungkin ada satu lagi yang perlu kau tahu, kenapa aku terus-terusan mengganti namanya menjadi “sesuatu yang kusebut noda”. Dia sesungguhnya punya nama, hanya saja aku tak suka memanggilnya dengan nama sebenarnya. Sesuatu yang kusebut noda itu, sesungguhnya adalah sisa-sisa dia, yang menendangku keluar dari hatinya. Namanya : kenangan!

Read Full Post »

Outcast

Duduk sendirian, berteman secangkir kopi. Memandangi dunia yang sibuk dengan segala kerlap-kerlipnya. Aku dan kopi jengah dengan hangar-bingar itu, maka kami bersembunyi, mencari sudut gelap, dan memandang dari kejauhan, menyendiri, lalu terlupakan.

Anehnya, terlupakan tak membuatku merana, aku justru mulai menikmati sensasi terlupakan ini. Aku jadi bebas mengamati mereka yang sibuk tertawa tanpa menyadari ketiadaan satu sosok.

Biarlah, toh memang mauku menyindiri. Teruskanlah hingar-bingar kalian, tanpa perlu merasa bersalah. Dan akan kuteruskan waktuku bermesraan dengan segelas kopi panas, yang asapnya mengepul, menyebarkan aroma yang menggodaku untuk menyesapnya.

Aku, tak pernah melupakan kopi, bahkan saat aku sedang dalam persembunyianku. Dan kopi, tetap akan setia memanggilku dengan aromanya yang menggoda, di manapun aku bersembunyi.

Karena aku dan kopi, tak pernah saling melupakan, tak akan pernah!

Read Full Post »

Older Posts »