Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘patah hati’

heart chain

Purnama demi purnama berlalu

Mengganti banyak hal

Kecuali satu hal di hatiku

Kamu

Aku yang membiarkan diri menangis

Mengeluarkan tetes demi tetes air mata

Demi lupa yang ku harap datang setelahnya

Tapi nihil

Kamu tetap di sana

Di hatiku yang terlanjur kau jajah

Pun tak mau memerdekakan dirinya

Aku tak bisa lupa

Atau mungkin justru tak mau lupa

Jadi aku akan menyerah

Ku biarkan kamu menduduki hatiku

Sambil berharap ada penjajah baru

Yang berhasil menaklukkan kekuasaanmu

Dan menancapkan bendera kemenangan di hatiku

Biarlah aku merdeka

Dengan cara terjajah

Karena aku kehabisan cara untuk memerdekakan diriku sendiri

Advertisements

Read Full Post »

cofe rain

Cangkir cappuccino-ku masih di situ, tak bergerak sejak pertama diletakan oleh pelayan kedai kopi ini dua jam yang lalu. Sedangkan cangkir espresso-mu entah sudah berapa kali berpindah tempat, isinya bahkan sudah tak bersisa. Kulemparkanan pandangan ke jalanan di kiriku, mobil tampak berlalu-lalang di jalanan yang basah oleh hujan yang masih turun.

Kedai kopi, dan hujan. Ahh ini terlalu mirip cerita yang banyak ditulis penulis-penulis yang menggambarkan kejadian putus cinta. Atau mungkin mereka memang benar-benar menuliskan berdasarkan pengalaman pribadi mereka, atau orang-orang di sekitarnya? Bahwa memang dua orang yang tadinya berpasangan biasanya mengakhiri hubungan mereka di kedai kopi. Dan saat ada hati yang terbelah, langit biasanya mengiringinya dengan menurunkan hujannya. Entah untuk menambah sendu suasana, atau justru sebenarnya hujan ini turun untuk membantu membawa pergi luka yang tersisa bersama arusnya, tapi seringnya hujan tak berhasil.

Seperti aku yang masih terduduk di kedai ini, ditemani hujan, dan cangkirku yang belum tersentuh, juga oleh sisa aromamu, dan cangkir kosong bekas kopimu yang masih di sana. Sama sekali tak ada yang terbawa oleh hujan, semuanya masih terlalu jelas di kepalaku. Dua jam yang lalu, kamu mengatakan kita tak bisa lagi terus bersama. Kita harus menghapuskan ‘kita’ katamu. Aku harus merubah ‘kita’ menjadi hanya ‘aku’ dan ‘kamu’, karena menurutmu, tidak bisa lagi ada ‘kita’. Dan kamu mengatakannya tanpa beban sambil menyesap espresso yang baru diantarkan bersama dengan cappuccino-ku. Cappuccino yang karena keterkejutanku tak tersentuh hingga detik ini.

Semudah itukah kamu menghanyutkan ‘kita’ bersama hujan yang turun sore ini? Karena sungguh, ini benar-benar tak mudah bagiku. Kenangan soal tawa yang kita lontarkan bersama masih bergema di sekelilingku. Sejelas omelanku saat prioritas tentang aku kamu letakkan dibawah pertandingan bola favoritmu yang tayang di televisi. Bagaimana itu semua bisa kuhanyutkan begitu saja bersama hujan yang datang sore ini?

Tapi kamu sudah tak lagi perduli. Kamu bahkan tak bisa memberiku kesempatan bicara. Setelah kamu buang ‘kita’ kamu justru bilang kamu tak bisa lama-lama di sini, berdiri, lalu pergi. Pergi tanpa menengok ke arahku sama sekali. Bahkan tak juga memberiku sedikit kekuatan, untuk sekedar mengatakan bahwa aku, bukan ‘kita’, akan baik-baik saja tanpa kita, tanpa kamu. Atau kamu memang sama sekali tak tahu cara berbasa-basi.

Biarlah, toh hujan ini masih setia menungguku selesai mengepak semua sisa kenanganku. Dan pada saat itu, hujan akan siap membawa pergi semuanya.

Tunggu aku siap hujan, sungguh, akan kuhanyutkan ini semua bersama aliranmu, nanti.

Tapi jangan bertanya “kapankah nanti?” hujan

Karena sungguh aku tidak tahu

Aku hanya tahu nanti

Read Full Post »

Primadona Patah Hati

“Permisi, boleh foto bareng?” Yang bertanya adalah seorang gadis cantik yang sedang bersama dengan beberapa orang temannya. Gadis-gadis bergizi baik, pikirku sambil tersenyum sendiri.

“Silahkan” Aku menjawab. Gadis itu lalu berdiri di sampingku. Kurangkul pundaknya, dia tertawa kecil saat tanganku bertengger di pundaknya. Seorang temannya mengambil gambar kami dengan kamera pocket.

“Eh, eh, gantian dong! Gw juga mau foto, lo fotoin gw sekarang!” Kata temannya yang tadi mengambil gambar kami. Maka sekarang mereka bertukar posisi, gadis yang tadi memegang kamera berdiri di sampingku. Yang satu ini bereaksi sebelum aku sempat beraksi, dia berpose mencium pipiku. Ada semburat merah di pipiku, tapi tampaknya dia tak melihat. Temannya selesai mengambil gambar. Merekapun berkata serempak dengan manis¬†“Makasih yaaaaaah”

Begitulah kegiatanku sehari-hari. Aku sering diajak berfoto bersama seperti ini. Hari ini aku beruntung, karena hampir semua yang meminta berpose bersama adalah gadis-gadis bergizi baik. Di hari lain keberuntunganku kadang tak sebagus ini. Yang mengajak aku berfoto kebanyakan ibu-ibu yang menggendong anaknya. Itupun sambil menangis kencang di telingaku. Para ibu itu memang suka memaksa. Yah, tapi bagaimanapun, kunikmati kegiatanku ini. Bagaimana tidak, aku primadona di sini, tentu saja kunikmati.

**

Aku sedang duduk-duduk ketika sebuah tepukan di pundak mengagetkanku.

“Mas, mau foto bareng boleh?”

Kutolehkan kepalaku ke arah datangnya suara. Seorang gadis berjilbab merah. Cantik! Aku tak tahu jika ada kata yang maknanya lebih dari cantik. Aku terpaku, tak mampu berkata-kata. Jantungku berdetak lebih cepat, tak pernah dalam hidupku jantungku bergerak seaktif ini, bahkan saat berlari sekalipun.

Jatuh cintakah aku? Aku tak tahu, yang pasti aku terpana, hingga aku kehilangan kemampuanku berkata-kata.

Anggukan kepala adalah satu-satunya reaksi yang mampu kuberikan. Maka selanjutnya gadis itu duduk di sampingku, tersenyum manis ke arah kamera pocket yang dipegang temannya. Senyum termanis yang pernah kulihat sepanjang hidupku.

“Makasih yah mas”

Ah, apa.. ternyata temannya sudah selesai mengambil gambar. Aku tersihir senyumannya hingga tak sadar akan keadaan sekitar. Lagi-lagi aku tak sanggup bereaksi, maka aku hanya mengangguk. Dan kemudian gadis itu berbalik hendak pergi.

Entah dengan keberanian dari mana kutarik tangannya, mencegahnya untuk pergi. Ia terkejut dan menatapku tajam lalu menepis pegangan tanganku.

“Eh, ada apa yah” Tanyanya ketus.

“Jangan pergi mbak” Pintaku dengan keberanian yang entah datang dari mana, sambil sekali lagi kupegang tangannya, takut ia benar-benar pergi.

Plak! Pipiku panas

“Jangan kurang ajar yah mas” ia makin ketus.

“Maaf mbak saya gak maksud kurang ajar, saya jatuh cinta, sama mbak” Astaga, ngomong apa aku ini.

“Haha, ada-ada aja si mas. Ngaca dulu deh mas” Kali ini dia mengatakannya sambil berlalu pergi, tak mampu kutahan lagi.

Meninggalkan aku berdiri terpaku di tempatku.

**

Aku berdiri di depan kaca toilet tempat kerjaku. Kuikuti saran gadis tadi, berkaca.

Aku tertawa kecil. Tertawa mengasihani diriku sendiri. Diriku yang kupikir primadona. Diriku yang banyak digemari. Ternyata itu semua tak membuat urusan percintaanku menjadi lebih lancar.

Aku menatap kaca sekali lagi. Kuambil selembar tissue, kubersihkan wajahku. Dan sadar apa maksud “ngaca dulu” yang tadi dikatakan gadis yang beberapa menit yang lalu membuat hatiku berbunga, lalu patah di menit berikutnya.

Kucopot hidung merahku. Gara-gara dia aku jadi berpikir aku ini primadona.

Kulempar ia penuh marah ke arah tempat sampah.



Hidung merah sialan!

Read Full Post »

DOR!

“Semua akan baik-baik saja”

Katamu sebelum kau benar-benar meninggalkan aku.

 

Hai tuan, aku tidak akan baik-baik saja. Ingatkah saat aku memintamu untuk tidak pernah meninggalkan aku? Kau pikir permintaan itu tidak beralasan? Apa kau tidak mengerti kalimat itu? “Jangan pernah tinggalkan aku!“. Ahh, mungkin kamu belum mengerti. Jadi mari, duduklah sebentar di sini, biar kujelaskan maksudku.

 

Begini, saat kubilang “jangan pernah tinggalkan aku” itu artinya aku benar-benar tak ingin ditinggalkan. Saat aku mengatakan itu, aku layaknya ikan yang tak ingin ditinggalkan air di dalam akuariumnya. Tak ingin ditinggalkan bukan karena sekedar ingin terus bersama, tapi karena ikan itu butuh air untuk tetap hidup.

 

Kamu mengerti sekarang? Aku butuh kamu untuk bertahan hidup. Kamu oksigenku. Tanpa oksigen aku tidak bisa bernafas, mati! Belum lagi jika kamu benar-benar berbalik saat ini, lalu bertemu dengan sesosok wanita lain di ujung jalan sana.

 

Ahh, sebentar. Tampaknya bukan ketidakhadiranmu yang membuat oksigen di sekitarku seolah habis. Tapi melihat hatimu tak lagi untuk aku yang lebih menyiksa. Apakah benar-benar ada wanita lain yang sudah menunggumu di ujung jalan sana?

 

Seketika mataku basah membayangkan hatimu yang diisi nama wanita lain, bukan namaku. Tidak ada perpisahan yang membahagiakan dalam kamus hidupku. apakah kamu pernah berpisah lalu tertawa terbahak-bahak sesudahnya?

 

Hmm, ya, mungkin kamu memang akan tertawa setelah meninggalkanku. Karena wanita di ujung jalan itu kan?

 

Maafkan aku, aku tak bisa membiarkanmu pergi dengan cara seperti ini.

 

DOR!!

Nah, lebih baik begini. Menyaksikanmu pergi dengan kepala bersimbah darah begini lebih baik daripada melepasmu pergi dengan membiarkan kemungkinan kamu bertemu wanita lain itu di ujung jalan.

 

Selamat Tinggal!!!

 

Read Full Post »

Tentang Melepaskan

just let it go

 

Menyimpanmu di hatiku sama seperti menggengam mawar penuh duri

 

 

Durinya melukai tangan dan jariku

Tapi merah dan wangi mawar yang khas justru membuatku menggenggamnya lebih erat

Alhasil aku semakin terluka

 

Luka di genggamanku makin dalam

Darah mulai menetes

Tapi tak kulonggarkan genggamanku

Darah menetes makin banyak

 

Mereka semua berteriak agar kulepaskan mawar ini

Tapi otakku tak mengizinkan genggamanku memberi respon

Genggamanku justru makin erat

 

Darah ini mulai mengucur deras

Air mataku mulai menetes

Tampaknya tak lagi sanggup kutahan sakit ini

 

Aku terjatuh berlutut

Aku mati-matian tetap mempertahankan mawar di genggamanku

Tapi lukaku terlalu dalam

Hingga mawar di genggamanku terlepas

Meninggalkan banyak luka di tanganku

 

Jangan tanya rasanya!

Aku sedih teramat sangat kehilangan mawarku

Tapi harus kuakui ini melegakan!

Mawar itu takkan melukaiku lebih banyak lagi

Sudah terlalu banyak luka di sini

 

Tapi, bukankah yang namanya luka pasti bisa disembuhkan?

Read Full Post »

Surat Untuk Perempuanku

aku akan pergi mengadu

 

Kepada Perempuanku

 

 

Wahai perempuanku, tahukah kamu betapa dahsyatnya efek  setiap apa yang kamu lakukan terhadapku? Ingatkah saat pertama kali kau terima uluran tanganku saat kita dikenalkan dulu? Aku ingat! Aku juga ingat betapa merdunya suaramu saat kau mengucapkan namamu dengan sebaris senyuman di bibirmu. Uluran tangan, suara, dan senyuman yang begitu menyihirku. Aku tersihir pesonamu wahai perempuanku, dan aku bertekad untuk memilikimu sejak saat itu.

 

Tak pernah semudah ini kupasrahkan hatiku kepada seorang wanita. Pun kau tak tampak keberatan kuisi hatiku denganmu. Kau selalu riang menerima sapaanku. Tampak antusias menjawab pesanku. Gelak tawa yang terdengar saat kita berbicara pun menunjukkan bahwa kau sama sekali tidak keberatan.

 

Kupuja kamu seperti tak pernah kupuja hal lain wahai perempuanku. Dewa cinta pun pasti tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengetahui betapa aku memujamu. Dan kau tahu apa yang terjadi jika seseorang yang terlalu memuja sesuatu dikecewakan bukan?

 

Aku yang begitu percaya diri ini memberanikan diri mengungkapkan apa yang kurasakan padamu. Cintaku ini terlalu membuncah untuk ditahan. Tapi kau hancurkan kepercayaan diriku wahai perempuanku. Kau hujamkan beribu pisau di jantungku saat kau katakan kau tak memiliki perasaan yang sama.

 

Kuingat ulang semua kenangan kita, kejadian demi kejadian. Semua tawa itu tak menunjukkan kau tak memiliki perasaan khusus, senyum itu, bentuk perhatian kecil yang tak pernah alpa kau berikan. Apa yang salah perempuanku? Tak pernah benar-benar kau katakan apa yang salah dari apa yang kita jalani. Tak pernah kau beritahu dimana letak kesalahanku yang membuatmu tidak memiliki perasaan yang sama.

 

Aku tak terima perempuanku, tapi kamu terlalu berharga untuk kusakiti. Aku takkan punya hati untuk meninggalkan secuil pun luka di tubuh molekmu. Aku tak punya hati untuk membiarkan setetes air mata pun membasahi paras ayumu. Tidak akan, jadi tenanglah kau disana.

 

Apa yang akan kulakukan?

 

Saat kau baca pesanku ini kau pasti sudah tahu apa yang kulakuan. Aku akan pergi mengadu. Aku sedang dalam perjalanan ke sana, dan maaf aku harus meninggalkanmu, tapi ini agar nanti kita bisa bersama lagi. Jadi kau tak perlu menangis sayang, karena aku tetap tak rela parasmu basah oleh air mata

 

Ya perempuanku, aku sedang dalam perjalanan. Perjalanan menuju Satu-Satunya Tempatku Mengadu. Aku sudah berkali-kali mencoba mengadu dari sini, tapi tampaknya Ia tak mendengar. Aku juga sudah berteriak meminta pada langit, karena katanya di sanalah DIa berada. Tapi tetap nihil!

 

Jadi aku akan datang langsung kehadapanNya. MemakiNya kalau perlu, dan aku akan menyalahkannya yang tak membuatmu mencintaiku, padahal katanya ia Penguasa segala kuasa.

 

Aku sedang kesana, mengadu pada Penciptaku!



Read Full Post »