Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘thoughts’

meracau : masa lalu

pindahan dari kicauan saya di tetangga sebelah :)

pass

kepada masa lalu, yang konon hanya bagian dari rangkaian waktu, bukankah sesungguhnya tak ada bagian yang sekedar hanya? maksudku, bukankah kau takkan mencapai menit, jika tak kau lewati 60 detik dahulu sebelumnya? bukankah mereka takkan mencapai sepuluh tanpa melalui 1, 2 , 3 sampai 9 sebelumnya? seperti halnya kekinian yang dipuja-puja, bukankah takkan bisa ditempati tanpa menjejakmu, masa lalu, terlebih dahulu?

lalu mengapa mereka meng-hanya-kan mu wahai masa lalu? sebegitu kecilkah artimu terhadap kini? apakah karena kau tak tersentuh, walau baru sedetik berlalu, maka mereka kemudian sengaja mengecilkanmu, menganggamu tak pernah ada? padahal, bukankah kau lah yang mengajarkan kami tentang rasa, tentang sesal, tentang pilihan, tentang menjadi dewasa?

wahai masa lalu, yang seringnya setengah mati dilupakan, ditiadakan, apakah salahmu pada mereka, sehingga mereka seringnya memusuhimu, menguburmu dalam-dalam, hingga dianggap seolah tak pernah ada?

ahh, maafkan aku yang banyak bertanya. tapi tahukah kau masa lalu, tadinya akupun hampir membencimu, karena membiarkan aku menangis, terluka, pada rentang masamu. hingga aku kemudian sadar, bahwa dirimu yang menjadikan diriku seperti diriku saat ini. maka bukankah aku durhaka jika begitu saja membencimu, seperti mereka?

maka alih-alih memaki, aku justru datang memelukmu untuk berterima kasih, atas luka, atas air mata, dan beberapa selingan tawa yang kau berikan untuk mengantar aku pada gerbang kekinianku. yang membentuk aku menjadi aku.

terima kasih! sungguh, terima kasih!

Advertisements

Read Full Post »

merdeka

Lima orang anak berbaris, membawa sendok dengan mulutnya. Lalu seseorang, lelaki,  yang jauh lebih tua dari mereka, meletakkan masing-masing sebutir kelereng di sendok yang pasrah digigiti. Lelaki tadi lalu memberi aba-aba, dan kelima anak itu, tiga laki-laki dan dua perempuan, berlomba menuju garis di ujung satunya, masih dengan sendok di mulutnya. Beberapa yang menjatuhkan kelereng dari sendok di mulut mereka, terpaksa berlari kembali ke garis awal, mengulangi usahanya, terus begitu, sampai akhirnya berhasil mencapai garis akhir di sisi satunya.

Di tempat lain, beberapa pria dewasa menanggalkan baju mereka, bertelanjang dada. Lalu mati-matian memanjat sebuah batang pinang yang tampak tak biasa. Tak biasa karena selain batangnya seperti sudah dilumuri oli kehitaman, batang ini juga tak lagi berbuah pinang, tapi televisi, sepeda, radio, sampai panci. Satu persatu mengambil giliran untuk mencoba naik sampai ke ujung, mencoba meraih hadiah apapun yang mampu mereka raih, walau seringnya sebelum setengah batang pun mereka sudah terpeleset jatuh ke tanah. Hingga lalu mereka berinisiatif untuk saling menopang, yang paling besar tubuhnya berdiri di paling bawah, lalu seseorang yang lebih kecil berdiri di bahunya, lalu seorang yang lebih kecil lagi berdiri di bahu orang kedua, sampai satu yang paling kecil berdiri di paling atas tumpukan manusia itu. Si kecil berhasil menjangkau puncak pinang, diraihnya semua sejadi-jadinya, semampu-mampunya. Lalu mereka berpelukan bahagia setelahnya, merayakan keberhasilan strategi mereka.

Bendera merah putih yang setahun sekali mendapati kebebasannya untuk berkibar, bersentuhan dengan angin, tampak melambai gembira di tiang-tiang yang dadakan di pasang di muka setiap rumah. Gapura dengan tulisan semboyan-semboyan nasionalisme menghiasi bibir-bibir gang. Umbul-umbul warna-warni tak mau kalah, meliuk-liuk meramaikan suasana.

Inilah potret negeriku. Negeri yang setahun sekali menyaksikan euforia warganya yang mendadak meningkat tajam kadar nasionalismenya. Negeri yang sibuk membuat perayaan semegah-megahnya, hingga lupa memperpanjang waktu mengheningkan cipta, lupa menyelipkan rasa terima kasih dan menyelipkan doa untuk mereka-mereka yang berkorban jiwa dan raga demi kita menghirup udara merdeka, menuntut ilmu tanpa ancaman moncong-moncong senjata. Negeri yang tetap riang, walau kecintaan para penghuninya tumbuh subur hanya di satu dari dua belas bulan yang ada.

Aku mungkin satu dari sekian banyak penduduk negeri ini yang ditulari euforia nasionalisme dadakan ini. Mendadak ikut-ikutan membicarakan soal nasionalisme musiman, padahal belum setetespun darahku kupersembahkan sebagai bentuk pengabdianku pada negeri ini. Belum ada buah pemikiranku yang berhasil memberikan sesuatu untuk negeriku ini. Tapi bagaimanapun, akan kujawab setiap pertanyaan yang mempertanyakan kecintaanku pada negeri ini dengan jawaban “YA” mantab, tanpa setitikpun keragu-raguan membersit.

Mungkin belum ada bukti yang benar-benar nyata atas kecintaanku pada negeri ini. Tapi cintaku nyata, senyata udara yang tak terlihat, tapi dapat kau rasa menepis lembut pipimu. Bukti cintaku paling ekstrem sejauh ini mungkin apa yang kulakukan beberapa hari yang lalu.

****

Suatu malam , dua hari setelah hari kemerdekaan…

1 new message

from : him

nonton tv anu gak?

pas banget temanya sama aku,

kurang bangga jadi warga Negara Indonesia

19/08 – 10:42 PM

Entah karena apa, atau kalau boleh saya yakini karena cinta, saya merasa tertusuk oleh sederet kata-kata dalam pesan pendek yang baru saya terima. Pesan singkat itu saya terima dari seseorang yang harusnya saya hujani kata mesra, tapi dia menyakiti sesuatu dalam diri saya lewat pesannya barusan. Panggil saya berlebihan, tapi darah saya rasanya mendidih, mata saya berkaca-kaca, singkatnya, saya sakit hati!

Maka dengan tangan gemetar menahan emosi saya pilih menu “balas” untuk pesan barusan.

create message

to : him

kalo gak bangga sana gih pindah.

malu dong, gak bangga tapi nafas, makan,

minum, hidup, masih numpang di Indonesia.

kalo kata Ian di 5 cm sih, “yang berani nyela Indonesia, ribut sama gue!!”

19/08 – 10:52 PM

message sent!

Lalu kami bertengkar hebat malam itu, karena Indonesia. Saya ogah menyerah, saat itu tidak ada keraguan saya untuk mati-matian membela negara yang deretan pulaunya tercetak di kartu identitas saya, tanpa memberi sedikit pun ruang untuk kompromi pada dia, yang seringnya membuat saya tak pernah kehabisan toleransi. Yang satu ini pengecualian, tak ada toleransi. Nasionalisme saya yang seada-adanya memberontak, membuat dia menutup malamnya dengan meminta maaf.

Saya lega!

****

Sedangkal itu pemahaman saya tentang nasionalisme. Tapi nasionalisme saya yang seadanya, tidak mengurangi setetespun kecintaan saya terhadap negeri gemah ripah loh jinawi ini. Negeri yang di atasnya terhampar hutan luas paru-paru dunia, yang di bawahnya tersimpan gas, minyak, timah, tembaga dan bahkan emas. Negeri yang kaya raya, negeri yang kaya budaya. Walaupun mungkin hingga kini, tak semua dari kami mencicipi kekayaannya. Negeri yang katanya semerawut, yang disebut terpuruk, negara kelas tiga.

Apapun, aku cinta negeri ini. Negeri yang menyuburkan tanahnya demi memastikan bahwa perut segenap rakyatnya tetap terisi. Negeri yang tak henti mengalirkan airnya untuk memuaskan dahaga segenap penduduknya. Negeri yang menopang kaki-kaki dan rumah-rumah dengan kokoh, walau sesekali kelelahan lalu kehilangan keseimbangan, bergetar sebentar, membuat beberapa rumah yang seharusnya ditopangnya justru menjadi roboh. Negeri yang diam-diam menangis, karena sadar dirinya mulai tua, tapi justru semakin sering diabaikan, karena warga yang setengah mati dicintainya, hingga membuatnya rela memberi segala yang ia punya untuk mereka, seringnya justru melupakannya, sibuk dengan urusan perut dan kantongnya sendiri-sendiri.

Wahai negeri, dengan lantang kuteriakkan ke arah langitmu, di bawah benderamu yang melambai-lambai tanpa lelah, bahwa dari sekian banyak yang lupa, aku ingat! Aku bersyukur menjadi bagian dari tanahmu yang kaya.

Dirgahayu negeriku!

Aku cinta kau, Indonesia!

Read Full Post »

Cukup Satu Pelukan

Peduli bukan soal mempertanyakan

Peduli adalah tindakan

*****

Apakah ketika kau menyaksikan seseorang mengalami pendarahan hebat di hadapanmu, kau akan sibuk bertanya soal apa yang baru saja menimpanya, mendesaknya menceritakan asal darah yang mengucur deras dari tubuhnya? Lalu setelah kau tahu detil kronologis kejadiannya, baru kau menolongnya, ketika ia sudah terlanjur lemas, hampir mati kekurangan darah?

Tidak!

Kau akan melakukan apapun yang bisa kau lakukan untuk menghentikan pendarahan, mencari bantuan lain, membawanya ke rumah sakit, atau apapun yang bisa kau perbuat saat itu untuk menolong orang di hadapanmu agar ia selamat. Tanpa bertanya soal penyebab malapetaka macam apa yang menimpanya.

*****

Begitu pun detik ini, saat kau menyaksikan aku menangis di hadapanmu.

Cukup peluk aku, usap punggungku, tenangkan aku, sampai surut air mataku.

Karena peduli adalah soal tindakan, bukan pertanyaan….

Read Full Post »

jika surga itu putih

jika neraka itu hitam

maka dunia (kita) adalah abu-abu
yang menunggu waktu diputihkan
atau justru dihitamkan

begitukah?

Read Full Post »

memory

 

Masikah kau buka foto-foto kita dulu? Seperti aku masih melihatnya satu persatu sambil tersenyum. Menertawakan kita yang dulu terjebak dalam cinta. Atau masihkah kau baca tulisan-tulisan yang kubuat untukmu? Seperti aku masih membaca tulisan-tulisanmu untukku. Seperti yang sedang kubaca ini, kau menulis tentang mengajakku pergi dengan permadani terbang. Mengangkasa bak Aladdin dan Jasmine.

 

Aku tertawa lagi. Menertawakan betapa seorang pria berusia 25 dan seorang wanita berusia 22 tahun jatuh cinta layaknya mereka yang masih berseragam putih abu-abu. Cinta yang kita sendiri tak tahu maknanya.

 

Memang persahabatan kerap kali membuat kita menyalah artikan rasa sayang. Rasa sayang yang sepertinya tak puas dengan sebuah batas yang disebut persahabatan. Lalu mereka memberontak melewati batas karena mereka ingin lebih.

 

Tapi apa daya kita, kita ini manusia bukan?

 

Tapi itulah kenapa Tuhan selalu melarang kita melampaui batas. Berkali-kali Dia memperingatkan hamba-hambanya agar tak melampaui batas. Karena Dia tahu benar watak mahluk ciptaannya ini. Tapi kita tetap memberontak, dan bergeser dari sahabat ke garis di sampingnya, kekasih.

 

Lalu semua seolah berjalan ke arah yang salah. Semua yang tadinya kita lihat indah, kita rasa menyenangkan, sekarang terlihat dan terasa tak seindah dan semenyenangkan dulu. Bahkan apa yang dulu tak pernah menjadi masalah kini jadi masalah yang membuat kita berteriak satu sama lain.

 

Dan hasilnya, kita harus sampai pada tahap yang namanya melepaskan. Kita kehilangan. Sama-sama terasa berat, karena kau dan aku sama-sama tahu. Persahabatan memang biasa beralih menjadi cinta. Tapi tak adilnya, jarang sekali cinta yang bisa berakhir dengan persahabatan. Maka hari itu aku, dan juga kamu, kehilangan kekasih, sekaligus sahabat.

 

Aku jadi bertanya-tanya bagaimana kabarmu. Masihkah kau simpan kenangan itu, seperti aku masih menyimpannya. Bukan untuk diulang suatu saat nanti, tapi untuk dilihat seraya tersenyum. Karena kita pernah punya cerita dulu. Kenangan yang menyimpan tiga bulan hidupku yang dibagi denganmu, tiga bulan hidupmu yang dibagi denganku.

 

Semoga kamu baik-baik saja dan kau menemukan bahagiamu kini.

Seperti aku menemukannya.

 

 

Read Full Post »

bo·san : sudah tidak suka lagi krn sudah terlalu sering atau banyak; jemu [KBBI]

Inikah yang sedang saya rasakan? Saya sedang bingung memberi makna terhadap apa yang sedang saya rasakan. tadinya saya pikir ini bosan, tapi melihat definisi bosan di atas tidak lantas menjadikan saya yakin apakah saya benar-benar sedang bosan.


Jadi, kenapa saya?

Read Full Post »

Sigh

Saya membayangkan menyaksikan impianmu terwujud tadi malam

Tapi ada yang berbeda

Ya, satu yang berbeda

Bukan saya yang ada di sampingmu

Saya?

Jangan tanyakan bagaimana saya

Saya bahagia asal kamu bahagia

Air mata?

Ah, ini juga karena bahagia

Bohong?

Aku tidak sedang berbohong!

Loh

Kenapa kamu terus-terusan menuduh aku berbohong?

AKU TIDAK SEDANG BERBOHONG

Aahh, baiklah kalau kamu memaksa

Aku memang tidak pernah berhasil menyembunyikan perasaan darimu

YA AKU MEMANG BERBOHONG!!

Apakah kamu rela impianmu direbut?

Karena aku tidak

tears1

Read Full Post »

Older Posts »