Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hujan’

box of rainbow

Aku pecinta pelangi. Lengkung spektrum warna di langit, yang tampak karena pembiasan sinar matahari oleh titik-titik hujan. Aku suka merahnya, aku suka hijaunya, aku suka jingganya, aku suka kuningnya, aku suka birunya, aku suka nilanya, aku suka ungunya. Dan aku cinta perpaduan warna-warna itu dalam lengkungan yang muncul di langit saat tanah mengelurkan wangi khasnya. Saat rumput masih basah oleh sisa-sisa jejak hujan.

Aku pecinta pelangi. Lengkungan warna-warni yang muncul di langit yang baru cerah membiru sehabis gelap kelabu karena menumpahkan hujan. Lengkungan yang sering membuat wajah-wajah murung yang kehujanan menyungingkan senyuman yang tak kalah indah dengan lengkungan spektrum warna-warni yang muncul di langit.

Aku pecinta pelangi. Aku selalu suka bagaimana pelangi menceriakan mereka yang kuyup, kebasahan disiram hujan, dan bahkan mereka yang bersembunyi dari hujan. Pelangi seolah membuat mereka yang masih kuyup sisa kehujanan lupa akan tetes-tetes air yang tersisa di tubuh mereka. Pelangi melenyapkan semua ketidaknyamanan dengan pesonanya yang menyihir siapapun yang memandang ke arahnya.

Aku pecinta pelangi. Tapi ada satu yang tak kusuka dari pelangi. Pesona terindahnya hadir setelah hujan dan badai paling besar. Butuh perjuangan untuk menikmati semua pesonanya. Dan pelangi itu pun hanya muncul beberapa saat, tak sebanding dengan lama hujan yang mengantarkannya ke ujung langit. Tapi tetap, aku rela melakukan apapun demi menikmati keindahannya.

Aku pecinta pelangi yang mulai lelah menunggu pelangi. Maka, aku disini berdiri menantang badai. Merasakan tiap tetes hujan yang mengguyur. Aku mau jadi yang pertama menyambut pelangi saat hujan ini pergi. Akan kumasukkan pelangi itu ke dalam kotakku, dan kusimpan baik-baik, untuk kunikmati kapanpun aku rindu. Atau mungkin akan kusewakan, untuk mereka yang juga rindu pelangi

Pelangiku akan bisa dinikmati kapanpun, dimanapun.

Aku pendulang pelangi

Akan kumiliki pelangi itu!

Read Full Post »

cofe rain

Cangkir cappuccino-ku masih di situ, tak bergerak sejak pertama diletakan oleh pelayan kedai kopi ini dua jam yang lalu. Sedangkan cangkir espresso-mu entah sudah berapa kali berpindah tempat, isinya bahkan sudah tak bersisa. Kulemparkanan pandangan ke jalanan di kiriku, mobil tampak berlalu-lalang di jalanan yang basah oleh hujan yang masih turun.

Kedai kopi, dan hujan. Ahh ini terlalu mirip cerita yang banyak ditulis penulis-penulis yang menggambarkan kejadian putus cinta. Atau mungkin mereka memang benar-benar menuliskan berdasarkan pengalaman pribadi mereka, atau orang-orang di sekitarnya? Bahwa memang dua orang yang tadinya berpasangan biasanya mengakhiri hubungan mereka di kedai kopi. Dan saat ada hati yang terbelah, langit biasanya mengiringinya dengan menurunkan hujannya. Entah untuk menambah sendu suasana, atau justru sebenarnya hujan ini turun untuk membantu membawa pergi luka yang tersisa bersama arusnya, tapi seringnya hujan tak berhasil.

Seperti aku yang masih terduduk di kedai ini, ditemani hujan, dan cangkirku yang belum tersentuh, juga oleh sisa aromamu, dan cangkir kosong bekas kopimu yang masih di sana. Sama sekali tak ada yang terbawa oleh hujan, semuanya masih terlalu jelas di kepalaku. Dua jam yang lalu, kamu mengatakan kita tak bisa lagi terus bersama. Kita harus menghapuskan ‘kita’ katamu. Aku harus merubah ‘kita’ menjadi hanya ‘aku’ dan ‘kamu’, karena menurutmu, tidak bisa lagi ada ‘kita’. Dan kamu mengatakannya tanpa beban sambil menyesap espresso yang baru diantarkan bersama dengan cappuccino-ku. Cappuccino yang karena keterkejutanku tak tersentuh hingga detik ini.

Semudah itukah kamu menghanyutkan ‘kita’ bersama hujan yang turun sore ini? Karena sungguh, ini benar-benar tak mudah bagiku. Kenangan soal tawa yang kita lontarkan bersama masih bergema di sekelilingku. Sejelas omelanku saat prioritas tentang aku kamu letakkan dibawah pertandingan bola favoritmu yang tayang di televisi. Bagaimana itu semua bisa kuhanyutkan begitu saja bersama hujan yang datang sore ini?

Tapi kamu sudah tak lagi perduli. Kamu bahkan tak bisa memberiku kesempatan bicara. Setelah kamu buang ‘kita’ kamu justru bilang kamu tak bisa lama-lama di sini, berdiri, lalu pergi. Pergi tanpa menengok ke arahku sama sekali. Bahkan tak juga memberiku sedikit kekuatan, untuk sekedar mengatakan bahwa aku, bukan ‘kita’, akan baik-baik saja tanpa kita, tanpa kamu. Atau kamu memang sama sekali tak tahu cara berbasa-basi.

Biarlah, toh hujan ini masih setia menungguku selesai mengepak semua sisa kenanganku. Dan pada saat itu, hujan akan siap membawa pergi semuanya.

Tunggu aku siap hujan, sungguh, akan kuhanyutkan ini semua bersama aliranmu, nanti.

Tapi jangan bertanya “kapankah nanti?” hujan

Karena sungguh aku tidak tahu

Aku hanya tahu nanti

Read Full Post »

Kerinduan

Aku rindu, tapi bukan pada sesuatu yang menghangatkanku

Bukan pula pada dia yang biasa menanggapi ceritaku dengan saran-saran luar biasa

Juga bukan pada bibir yang senantiasa mengucap petuah bijak

Aku rindu, hanya pada sesuatu yang memberiku kesejukan di setiap kedatangannya

Pada dia yang setia mendengarkan apapun yang kuucap dari bibirku tanpa suara

Dia yang memiliki lagu sendiri, lagu yang indah, walau tak pernah kumengerti maknanya

Aku rindu dia yang selalu mampu melarutkan air mataku

Dia yang mengajakku menari bersama tiap rinainya

Aku rindu menari dalam rinaimu hujan

Read Full Post »

Saya terduduk.

Diam

Lama

Saya masih tetap dalam diam

Menahan sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan

 

Saya memandang langit

Langit itu tidak biru

Birunya tertutup awan

Bukan awan putih yang memperindah sang biru

Tapi awan kelabu

 

Ahh langit itu tak indah lagi

Sulit rasanya menikmati langit ketika digelayuti awan kelabu

Bosan saya melihat langit

 

Tapi ketika saya hampir berbalik meninggalkan tempat saya

Ada sesuatu yang jatuh di tangan saya

Air

 

Saya tatap langit

Awan kelabu itu ternyata

Ia menumpahkan hujannya

 

Semakin lama semakin banyak air yang jatuh

Rumput dikakiku basah dan mengeluarkan bau harum

Rumput ini terihat bahagia

Pohon-pohon pun sibuk bergoyang bahagia tersiram hujan

 

Dada saya mendadak terasa terhimpit

Mata saya terasa panas

Air mata saya pun jatuh

Tapi tidak ada yang tahu saya menangis

Hujan ini menyapu setiap tetes air mata yang tak tertahan

Air mata itu kini menyatu dengan hujan

Membasahi rumput-rumput yang kegirangan

 

Saya tertegun

Tersenyum sebentar

Kemudian kembali menumpahkan air mata saya sepuas-puasnya

Membiarkannya menyatu dengan setiap tetes hujan yang jatuh

 

Ahh saya suka hujan

 

Ketika saya puas menumpahkan semua yang tersisa

Hujan pun perlahan reda

Menyisakan pohon dan rumput yang basah

Langit yang kembali biru

Dan aku

Aku yang baru

 

rain_by_unexists

 

…kalau sekarang kamu menangis, coba bikin hujan di dalam imajinasimu, supaya kamu bisa berjalan di bawahnya, lantas basah tubuhmu di situ, dan dengan itu kuyupnya akan menghapus airmata di mukamu…” (Novel Pop Remy Sylado, Boulevard de Clichy : Agonia Cinta Monyet, 2006)”

Read Full Post »