Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘love’

The One

karena diantara banyak kotak yang kutemui

kotakmu lah yang paling ingin kuisi

Advertisements

Read Full Post »

Memaknai Kesepian

alone

Mereka bertanya tentang kesepian

Bagiku kesepian adalah ketika aku berputar 360 derajat dan tak kutemukan wajahmu di tiap derajat putaran itu

Walau aku sedang dalam keramaian sekali pun

***

inspired by captainugros’s tweet

gambar dari sini

Read Full Post »

cofe rain

Cangkir cappuccino-ku masih di situ, tak bergerak sejak pertama diletakan oleh pelayan kedai kopi ini dua jam yang lalu. Sedangkan cangkir espresso-mu entah sudah berapa kali berpindah tempat, isinya bahkan sudah tak bersisa. Kulemparkanan pandangan ke jalanan di kiriku, mobil tampak berlalu-lalang di jalanan yang basah oleh hujan yang masih turun.

Kedai kopi, dan hujan. Ahh ini terlalu mirip cerita yang banyak ditulis penulis-penulis yang menggambarkan kejadian putus cinta. Atau mungkin mereka memang benar-benar menuliskan berdasarkan pengalaman pribadi mereka, atau orang-orang di sekitarnya? Bahwa memang dua orang yang tadinya berpasangan biasanya mengakhiri hubungan mereka di kedai kopi. Dan saat ada hati yang terbelah, langit biasanya mengiringinya dengan menurunkan hujannya. Entah untuk menambah sendu suasana, atau justru sebenarnya hujan ini turun untuk membantu membawa pergi luka yang tersisa bersama arusnya, tapi seringnya hujan tak berhasil.

Seperti aku yang masih terduduk di kedai ini, ditemani hujan, dan cangkirku yang belum tersentuh, juga oleh sisa aromamu, dan cangkir kosong bekas kopimu yang masih di sana. Sama sekali tak ada yang terbawa oleh hujan, semuanya masih terlalu jelas di kepalaku. Dua jam yang lalu, kamu mengatakan kita tak bisa lagi terus bersama. Kita harus menghapuskan ‘kita’ katamu. Aku harus merubah ‘kita’ menjadi hanya ‘aku’ dan ‘kamu’, karena menurutmu, tidak bisa lagi ada ‘kita’. Dan kamu mengatakannya tanpa beban sambil menyesap espresso yang baru diantarkan bersama dengan cappuccino-ku. Cappuccino yang karena keterkejutanku tak tersentuh hingga detik ini.

Semudah itukah kamu menghanyutkan ‘kita’ bersama hujan yang turun sore ini? Karena sungguh, ini benar-benar tak mudah bagiku. Kenangan soal tawa yang kita lontarkan bersama masih bergema di sekelilingku. Sejelas omelanku saat prioritas tentang aku kamu letakkan dibawah pertandingan bola favoritmu yang tayang di televisi. Bagaimana itu semua bisa kuhanyutkan begitu saja bersama hujan yang datang sore ini?

Tapi kamu sudah tak lagi perduli. Kamu bahkan tak bisa memberiku kesempatan bicara. Setelah kamu buang ‘kita’ kamu justru bilang kamu tak bisa lama-lama di sini, berdiri, lalu pergi. Pergi tanpa menengok ke arahku sama sekali. Bahkan tak juga memberiku sedikit kekuatan, untuk sekedar mengatakan bahwa aku, bukan ‘kita’, akan baik-baik saja tanpa kita, tanpa kamu. Atau kamu memang sama sekali tak tahu cara berbasa-basi.

Biarlah, toh hujan ini masih setia menungguku selesai mengepak semua sisa kenanganku. Dan pada saat itu, hujan akan siap membawa pergi semuanya.

Tunggu aku siap hujan, sungguh, akan kuhanyutkan ini semua bersama aliranmu, nanti.

Tapi jangan bertanya “kapankah nanti?” hujan

Karena sungguh aku tidak tahu

Aku hanya tahu nanti

Read Full Post »

Sampai Masanya Tiba

Kepada kamu dengan penuh cinta:

Tolong, jangan cintai aku karena kecantikanku
Karena akan datang masanya nanti kulitku berubah keriput
Binar mataku memudar
Rambut hitam lebatku akan memutih dan menipis
Kecantikanku ini tak abadi
Lalu pada masanya nanti, cintamu akan pergi?

Tolong, jangan cintai aku karena kepandaianku
Karena akan datang masanya nanti ingatanku memudar
Aku akan mengulang-ulang pertanyaan yang sama
Aku akan kesulitan menemukan di mana kaca mataku
Pertanyaan mudah akan menjadi sulit untuk kujawab
Kepandaianku ini tak abadi
Lalu pada masanya nanti, cintamu akan pergi?

Tolong, jangan cintai aku karena perhatianku
Karena akan datang masanya nanti aku tak lagi bisa memberimu perhatian yang sama
Aku akan menua
Berjalan pun sudah sulit
Mungkin hidupku akan bergantung pada obat-obatan
Aku akan terlalu sibuk mengurus diriku sendiri
Hingga aku tak lagi punya waktu untuk sekedar memberimu perhatian lebih
Perhatianku ini tak abadi
Lalu pada masanya nanti, cintamu akan pergi?

**
Aku juga tahu tak ada yang abadi
Tapi paling tidak, bisakah kau mencintaiku karena hatimu
Hatimu yang berjodoh dengan hatiku
Hati yang tak mengenal kecantikan, kepandaian, atau perhatian
Hati yang memilih tanpa alasan

Maka biarkanlah hati ini menjadi alasan kita bersatu
Kau mencintaiku karena ada namaku di hatimu
Aku mencintaimu karena ada namamu di hatiku
Semudah itu

Maka jika hati ini sudah terpaut
Tak perlu lagi kutakutkan masa yang datang membawa pergi kecantikan, kepandaian, dan perhatianku

Karena aku tahu, kamu akan tetap di sana
Tak berubah
Walau masanya tiba

Read Full Post »

Sekedar Selamat Tinggal?

selamat tinggal

 

Kamu diam lagi. Aku menunduk, melarutkan diri dalam diammu. Cukup rasanya aku bersuara, berusaha memperbaiki yang kupikir masih bisa diperbaiki. Semua usaha yang hanya dibalas diammu.

 

Tahukah kamu, wanita selalu perlu diyakinkan. Kami, para wanita, ibarat perahu yang butuh nahkoda untuk mengarahkan pelayaran. Arah perahu ini tergantung kalian, para pria, sang nahkoda.

 

Tapi lihatlah aku. Aku ini perahu yang dibiarkan terombang-ambing oleh sang nahkoda yang sibuk ragu-ragu dalam diamnya. Nahkoda yang membiarkan perahunya dipermainkan angin. Aku lelah terombang-ambing di tengah lautan, perjalanan ini membuatku sangat lelah.

 

Aku bahkan tak tahu kemana tujuanmu wahai nahkoda. Mengapa kau bawa aku berlayar jika kau bahkan tak tahu kemana kau hendak mengarah. Dan jika kau tak bisa menentukan tujuan, bisakah paling tidak kau antar aku kembali ke pelabuhan, tambatkan aku di sana, lalu pergilah. Tapi tak juga kau tambatkan aku di pelabuhan. Kau tetap memilih terombang-ambing di tengah lautan.

 

Aku heran bagaimana kau bisa terdiam begitu lama. Aku lelah dengan diammu. Tak perlu kau tunda kecewaku. Karena kecewa yang ditunda ini justru terasa semakin menyiksa. Katakanlah sekarang, jika aku memang bukan lagi perahu yang ingin kau nahkodai, bukan nama yang mengisi relung hatimu. Kau tahu, aku tak pernah memaksa.

 

Kamu tetap diam dan menunduk. Ini sudah berakhir, itu arti diammu. Seperti janjiku, takkan kupaksa kau untuk tinggal. Tapi aku tak puas dengan diammu. Jadi sebelum kau berbalik, bisakah paling tidak kau katakan sesuatu? Karena aku tak mau ini berakhir tanpa kata-kata.

 

Sekedar selamat tinggal mungkin?

Read Full Post »

akan kucoba

 

Aku ingin menulis tentang kamu. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan. Perasaan yang sulit kuungkapkan langsung. Jadi biarlah tulisanku yang bercerita

 

Akan kumulai sekarang!

 

Baiklah, aku akan mulai merangkai huruf demi huruf. Hingga huruf-huruf ini membentuk suatu kata. Kata yang memiliki arti.

 

Lalu akan kususun kata demi kata yang terrangkai dari huruf-huruf itu. Hingga kata demi kata ini membentuk sebuah kalimat. Kalimat yang mempunyai makna.

 

Akan terus kugabungkan kata demi kata hingga kudapat banyak kalimat. Kalimat-kalimat yang kemudian membentuk suatu paragraf. Paragraf yang mengungkapkan sesuatu.

 

Paragraf ini pun akan terus kususun. Bertambah paragraf demi paragraf. Paragraf yang satu kuhubungkan dengan paragraf yang lain. Hingga terbentuklah satu cerita yang utuh. Cerita yang dapat dibaca, dimengerti, dan dihayati. Cerita tentang apa yang tak bisa kuungkapkan padamu. Cerita yang bisa membuat kamu mengerti.

 

Tapi kenapa justru huruf-huruf ini yang terangkai menjadi kata yang membentuk kalimat yang menyusun paragraf demi paragraf ini yang tersusun. Paragraf demi paragraf yang tidak bercerita. Paragraf yang gagal mewakili apa yang kurasakan.

 

Ahh, tampaknya aku masih tetap bodoh, aku tidak bisa.

 

Sulit sekali ternyata untuk sekedar menyatakan betapa aku meyayangimu. Sangat menyayangimu!

 

Ups, apakah aku baru saja mengatakannya?

 

 

Read Full Post »

Our Little Secret

our little secret

 

Listrik mati malam ini

Gelap

 

Hujan tak mau kalah, ia turun deras diiringi petir yang saling menyambar

Dingin

 

Di sinilah aku, di tengah ruangan yang dipenuhi teman-temanku yang berencana membuat acara barberque dan menonton DVD bersama untuk merayakan kelulusan salah seorang dari kami.

 

Semua menekuk wajah karena acara hari ini dibuat berantakan oleh PLN dan hujan yang mengguyur alat pemanggang kami. Taman belakang tempat tadinya kami akan memanggang makanan malam ini pun habis diguyur hujan.

 

Aku hanya duduk di salah satu sudut sambil melihat semua mengeluhkan keadaan yang membuat acara senang-senang jadi berantakan. Hampir semua menggumam.

 

Tapi aku tetap tersenyum

Kamu tahu kenapa?

Sssst, tapi jangan bilang siapa-siapa yah

Ini rahasia!

 

Aku tetap tersenyum karena hatiku tetap benderang walaupun disini gulita

Aku tetap merasa hangat biarpun di sini dingin menusuk

 

Gelap itu jadi benderang, dingin ini jadi terasa hangat.

Karena kamu

 

Ya, kamu!

 

Ssssst, ingat, ini rahasia!

 

 

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »