Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘thing called life’ Category

24

Ulang tahun. Entahlah apa maknanya. Yang pasti, tahun ini tak ada perayaan, tak ada tiup lilin, tak ada pita-pita. Saya hanya ingin menghabiskan waktu dengan diri saya sendiri, mengenalnya lebih baik di tahunnya yang ke-24.

Sejak membuka mata kemarin, saya berjanji, untuk memberi sesuatu untuk diri saya sendiri, mengikuti dan meluluskan keinginan saya hari itu. Maka ketika tiba-tiba pikiran saya menantang untuk mendatangi salah satu konser yang dilaksanakan tepat hari itu, saya mengiyakan, walaupun beberapa hari sebelumnya saya sibuk mengantar adik saya berburu tiket, tanpa sedikitpun tertarik untuk ikut menonton. Maka perburuan last minute saya mulai.

Tuhan sepertinya juga sedang ingin memberi saya hadiah hari itu, selang beberapa menit saya mengiyakan keinginan saya sendiri, sebuah tweet muncul di timeline saya, menawarkan tiket harga murah untuk konser malam itu. Pucuk dicinta ulampun tiba! Saya langsung menghubungi orang tersebut, dan kurang dari satu jam kemudian, deal! Saya resmi dapat tiket, plus bonus tambahan dari Tuhan. Tiket yang katanya tiket untuk area tribune itu menyasarkan saya ke area tiket festival, yang nota bene harga tiketnya lebih mahal. God is Good, ain’t He? :p

Hal lain yang membuat saya hampir menitikkan air mata hari itu adalah serangkaian doa yang saya terima dari orang-orang yang hanya saya kenal melalui foto atau bahkan hanya sekedar avatar. Mereka yang katanya berasal dari dunia maya. Tapi kemarin tak ada yang terasa maya, doa itu terasa nyata! (dan saya kembali hampir menangis saat menuliskan ini). Ini adalah hal paling luar biasa. Mereka yang bahkan tak pernah bertatap muka langsung dengan saya, rela meluangkan waktunya untuk mengungkapkan sebait doa. Bukankah Tuhan mengulurkan tanganNya dimana-mana, melalui apa saja?

Juga seseorang yang katanya sengaja menunda waktu tidurnya malam itu, karena tak mau didahului siapa-siapa untuk menjadi yang pertama mengucapkan kalimat selamat ulang tahun untuk saya. Bersama dia saja terasa tidak nyata, maka menjadi alasannya mencegah matanya terpejam sungguh-sungguh membuat saya merasa mengangkasa.

Dan terutama kepada sepasang manusia yang menyaksikan saya beranjak dari kanak-kanak hingga (katanya) dewasa, untuk doa yang diucapkan seraya mengusap lembut kepala saya, lalu kecupan di kening setelahnya. Sepasang manusia yang saya panggil abi dan mama.

Sungguh, tak ada lagi yang patut saya keluhkan sepanjang 24 tahun pengelanaan hidup ini. Terima kasih Tuhan untuk setiap hembusan nafas yang cuma-cuma Ia izinkan untuk saya hirup, untuk setiap air mata yang mengandung pelajaran di dalamnya, dan untuk tawa yang meringankan langkah di pendakian hidup yang maha dahsyat.

Jika boleh asal-asalan memaknai, ulang tahun bukan sekedar gempita balon dan pita-pita. Bukan juga tumpukan kue, dengan nyala lilin yang menari-nari di atasnya. Ulang tahun ada kesempatan untuk memberi diri sendiri arti, berkontemplasi, merubah diri menjadi lebih, memaknai hidup lebih daripada sekedar angka.

.

Selamat ulang tahun, saya!

Sudut kamar, Jakarta, 24 September ‘10

Advertisements

Read Full Post »

dadysgirl

Selama ini, setiap berbicara tentang orang tua, seringnya aku hanya terbayang tentang ibu, yang meminjamkan separuh nyawanya padaku selama sembilan bulan aku menumpang hidup di rahimnya. Yang membawaku di perutnya kemanapun ia pergi  tanpa sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya. Yang bercucuran darah demi mengantarkanku hadir di dunia. Ibu, selalu ibu. Dan tentu saja ibu pantas mendapat segala penghormatan itu, bahkan lebih dari pantas, tepatnya harus. Betapa rugi, dan teganya mereka yang menyia-nyiakan segala pengorbanan yang dilakukan ibu.

Tapi kemudian aku telat menyadari satu sosok lain, yang tak kalah penting perannya dengan ibu. Sosok yang walaupun tak membawaku di perutnya, tapi selalu menyimpanku di hatinya. Sosok yang paling gelisah ketika ibu menjerit kesakitan di ruang bersalin saat mengantarkan hadirku di dunia. Dia yang berdoa semoga istri, dan anak kesayangan, yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya, selamat. Dia yang walaupun tak mengorbankan darah, tapi memeras keringatnya demi memberikan putri kesayangannya kehidupan yang layak. Dia, sosok itu, ayah.

Sering luput dari perhatianku betapa kasih sayang ayah tak sedikit pun lebih kecil dari kasih sayang ibu. Sesungguhnya kasih itu sama besarnya, kalau saja aku memperhatikan. Tapi dari beberapa yang luput dari perhatianku, ada beberapa yang kuingat tentang kasih ayah yang jelas nyata kurasa, meski terlambat kusadari.

Aku ingat saat aku berusia sekitar 3 atau 4 tahun, atau ini bahkan mungkin terjadi sejak usiaku lebih kecil, hanya saja ya itu tadi, hal ini begitu saja luput dari perhatianku. Saat itu, setiap selesai menjalankan kewajiban solatnya, ia memintaku duduk di pangkuannya dengan isyarat tangannya. Aku kemudian tanpa bicara mendatangi sejadah, lalu duduk di pangkuannya, sesuai perintahnya. Dan kemudian ia mengambil telapak tanganku meletakkannya di atas telapaknya lalu menengadahkan tangan itu dan mengajakku berdoa. Aku tak tahu pasti apa yang ia rapalkan dalam doanya, yang kuingat adalah pada sela-sela doanya, ia berkali-kali menciumi kepalaku, sambil berselawat. Tangan yang menengadah, ciuman, serta rapalan doa itu tak kumengerti maknanya pada saat itu. Tapi kini, saat aku mengingatnya kembali, tenggorokanku terasa tercekat dan mataku basah oleh air mata. Air mata bahagia karena beruntung telah hidup dengan aliran doa ayah di dalam tubuhku.

Saat aku menginjak usia sekolah,kesempatanku bermain-main dengan ayah berkurang. Ayah bekerja sejak sore, hingga dini hari, dan ini otomatis membuatnya harus menambah waktu tidurnya di pagi hari, sehingga hanya ciuman di pipi kanan kiri dan pesan untuk belajar sungguh-sungguh yang kudapat saat menghampirinya pamit untuk pergi ke sekolah, itu pun hanya dari atas tempat tidurnya. Ia tidak mengantarku sampai ke pintu, tapi aku mengerti, bahkan pada usia itu pun aku mengerti, bahwa ayah butuh istirahat. Di siang hari, saat aku pulang sekolah, ayah sering menyiratkan bahwa sesungguhnya ia ingin bermain-main denganku, tapi aku yang baru kembali dari sekolah terlalu lelah untuk bermain, dan lebih memilih untuk beristirahat tidur. Dan sore hari, saat aku bangun, ayah sudah terlanjur berangkat bekerja.

Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu pasti ayah merindukanku. Karena diam-diam setiap dia baru tiba di rumah sepulang ia bekerja, ia menghampiri kamarku, bahkan sebelum dia menghampiri ibu, membenarkan letak selimutku, lalu menciumiku yang lelap dalam tidurku. Dan kadang, jika aku sedang rindu, aku sengaja membiarkan diriku tertidur di ruang tv, semata-mata hanya agar aku punya kesempatan digendong ayah, yang tak pernah tega membagunkanku untuk berjalan sendiri ke kamarku. Dan sesungguhnya aku selalu terbangun tiap kali ayah melakukan itu, tapi aku sengaja pura-pura tidur untuk tetap berada dalam gendongannya.

Betapa sesungguhnya aku punya begitu banyak kenangan tentang ayah, yang seringnya kulupakan saat ia memarahiku saat aku terlalu malam pulang ke rumah, atau saat dia menolak permintaanku untuk membeli sesuatu. Dan saat itu, dengan teganya, aku justru menuduhnya tak memberiku cukup kebebasan, cukup kepercayaan, dan tak hanya itu, aku bahkan menuduhnya tak cukup sayang padaku untuk meluluskan permintaanku. Padahal yang kusebut tak cukup sayang itu bisa jadi justru rasa sayangnya yang kusalahartikan. Seperti ketika aku menolak permintaan adikku yang terus-terusan meminta permen, bukan karena aku tak sayang padanya, tapi justru karena aku peduli dan tak ingin giginya rusak karena terlalu banyak memakan permen. Ya, pasti begitu maksud ayah. Dan yang kusebut tidak memberi cukup kebebasan dan kepercayaan itu sesungguhnya adalah rasa sayang yang begitu besar, hingga membuatnya khawatir bahwa sesuatu akan menimpaku saat aku luput dari penjagaannya

Maka, ayah, atas segala kasih sayang yang luput dari perhatianku, yang menyebabkan aku begitu saja menuduhmu, dan menyebabkanku menyakiti hatimu, aku mohon maaf. Atas segala pengorbananmu yang begitu saja kuabaikan, aku berterima kasih. Dan atas segala doa yang tak henti kau rapalkan, aku sungguh-sungguh mengucap syukur.

Dan, ayah, mungkin aku takkan mampu membalas apa yang telah kau, dan ibu lakukan. Tapi ayah, aku akan berusaha semampuku membahagiakan kalian dengan yang kupunya. Dan sungguh ayah, aku tahu itu pun takkan pernah cukup membalas segala yang kau lakukan untukku. Maka ayah, kali ini biar aku yang menengadahkan tanganku, sambil menciumi pipimu, dan memohonkan segala kebaikan untukmu dan ibu kepada Sang Pemilik Segala. Karena sungguh ayah, atas segala kasih sayang yang kalian curahkan, tak ada yang lebih pantas membalas selain Sang Maha Penyayang. Maka kepada-Nya lah aku berdoa.

Rabbighfirlii Wali wali Dayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayani Shaghiraaa.

* ditulis setelah membaca bab “Ayah” di novel Rahim karya Fahd Djibran

Read Full Post »

sumas

Read Full Post »

bukan surat cinta

Kepada kamu, yang mungkin sedang menyimpan ragu tentang aku

Aku bukan cenayang, yang bisa meramalkan masa depan. Tapi dari sedikit intuisi yang kupunya, memilihmu, adalah hal yang terasa paling benar sampai saat ini.

Aku tak bicara soal siapa yang paling baik, karena sungguh, hanya Tuhan lah yang paling berhak menilai siapa yang baik, kurang baik, atau tidak baik. Dan bukan maksudku pula menilai mereka, yang pernah singgah di hatiku, tak sebaik kamu. Tapi dari sedikit yang aku tahu tentang baik dan tidak, caramu memperlakukan aku, adalah yang terbaik, di antara yang lain. Dan sedikit banyak, kubaca isi hatimu dari caramu memperlakukan aku.

Sedikit tahu. Karena aku tak benar-benar tahu apa yang di dalam hatimu. Kuakui, kadang ragu itu pun hinggap di hatiku. Pertanyaan-pertanyaan soal kesungguhanmu terhadap apa yang sedang kita bangun bersama. Tapi kemudian tak pernah kutemukan alasan untuk tetap ragu terhadap kamu, terhadap kita.

Sekarang aku tak bisa menjawab keraguanmu. Tapi paling tidak, lihatlah kembali jejak-jejak yang kita tinggalkan bersama. Dan apa yang sudah setengah jalan kita bangun ini. Tak inginkah paling tidak kau selesaikan ini? Untuk kemudian membuktikan bahwa kita mampu bertahan di tengah segala keraguan yang deras menghujani. Percayalah, ragu itu akan segera pergi, dan berganti pelangi.

Dan bila ragu itu datang lagi, tak banyak yang harus kita lakukan, selain berpegangan lebih erat. Karena ketika kau longgarkan peganganmu, maka ragu itu akan meruntuhkan kita, dan apa yang sudah setengah jalan kita bangun bersama.

Maka kamu, yang saat ini mungkin sedang menyimpan ragu, aku tak benar-benar tahu ujung perjalanan ini. Tapi untuk saat ini, bisakah paling tidak kuminta satu hal darimu? Hanya satu.

Percayalah!

Read Full Post »

puaskah kau pada romansa ini

romansa yang bergantung pada rangkaian serat optik

yang menghubungkan kamu di ujung sana

dengan aku di ujung satunya

aku tidak!

Read Full Post »

Saya sulit tidur semalam. Dan jam tiga dini hari, perut saya berontak minta diisi. Akhirnya saya bongkar dapur mencari sesuap camilan yang ada. Buka-buka lemari, saya menemukan roti tawar. Saya ambil dua lembar, dan saya seduh secangkir teh tubruk. Roti tawar dicelup teh, sempurna, pikir saya.

Roti tawar yang dicelup  teh hangat jelas bukan baru pertama kali ini saja saya nikmati. Saya sering menikmatinya dulu, selagi saya anak-anak. Tapi ketika kini saya menikmatinya kembali, entah kenapa, rasanya jadi lebih istimewa. Apa yang menjadikannya istimewa, ketika roti tawar dan teh rasanya masih sama, tak berubah, sejak dulu? Soal ini saya juga tidak tahu, mungkin justru rasa rindu yang tidak saya sadari keberadaannya itu yang membuat menu ini sekarang menjadi begitu istimewa.

Begitulah hidup, kita kadang terlalu mengesampingkan hal-hal kecil yang bagi kita terlihat biasa, dan terlalu berpaku pada hal-hal yang menurut kita lebih penting, lebih “besar”. Dan ketika kemudian hal kecil itu hilang, kita sampai-sampai tidak sadar akan ketidakberadaannya. Atau dia tetap ada, tapi cara kita memandangnya berubah menjadi lebih rumit.

Seperti halnya roti tawar dan teh ini. Lidah saya yang tadinya terbiasa menikmati roti tawar hanya dengan celupan teh, tiba-tiba merasa dimanjakan oleh roti tawar dengan isian cokelat, keju, selai strawberry, dan lainnya. Belum lagi setelah itu dibakar, dan dinikmati dengan siraman susu kental manis di atasnya. Saya jadi terbuai pada kenikmatan kemewahan roti tawar yang sekarang saya rasakan. Kesederhanaan roti tawar hilang.

Hingga malam ini, saya dibawa kembali pada hakikat kesederhanaan oleh dua lembar roti dan secangkir teh manis ini. Bahwasanya saya mungkin harusnya bisa memandang hidup dengan lebih bersahabat. Tak perlu menuntut cokelat di sela dua lembar roti saya, karena ternyata dengan celupan air teh pun saya bisa merasakan nikmatnya. Nikmat dengan cara yang sederhana. Tanpa coklat, tanpa keju, tanpa dibakar di atas bara, dan tanpa siraman susu kental manis.

 

toast and tea

 

Hanya roti tawar dan secangkir teh manis hangat, itu saja!

 

24/02/10, 03.42am

 

 

Read Full Post »

Semalam sebuah pesan singkat muncul di layar telepon genggamku :

”Sudah tiga purnama”

Aku tersenyum, dan lalu membalas pesan :

”dan masih akan ada banyak purnama untuk dipandangi bersama”

Aku membisikan doaku kepada alam yang menyaksikan, agar semua ikut berdoa, hingga doa itu sampai padaNya

Doa singkat
”semoga”

Read Full Post »

Older Posts »