Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘fiksi’ Category

drops of jupiter

Menatap langit aku malam ini, walau tak ada apa-apa menemani gelapnya. Tak bulan, tak juga bintang. Langit hanya berisi gelap, kosong, sekosong hatiku yang terpaku menatap gelapnya.

Bukan pesona langit yang menahanku berdiri menengadah menatap ke arahnya malam ini. Aku menatap langit sambil diam-diam mengulang doa dalam hati, berharap sebuah cahaya putih yang baru saja kulepas pergi dan menghilang di ujung langit kembali muncul, mendekat, lalu tersenyum ke arahku.

Cahaya yang kutunggu ini bukan bintang, bukan juga ekor komet. Cahaya ini adalah belahan hatiku, atau mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya ‘hatiku’ saja. Karena sepeninggal cahayanya yang kusaksikan menghilang di ujung langit -entah sudah berapa lama- aku hanya mampu berdiri terdiam, tak bergerak, tak melakukan apa-apa, selain tetap memandang langit, sambil terus-terusan merapal harap agar dia kembali muncul, memutar haluan, berubah pikiran, lalu berbalik ke arahku.

***

Aku ingin mengejar mimpiku, menjelajahi konstelasi, membangun rumah indah di Jupiter, lalu sesekali pelesir ke venus jika penatku datang.”

Wanita itu memecah keheningan di antara kami suatu hari, saat kami asik menjalankan kegiatan kesukaan kami, memandang langit penuh bintang. Pernyataan yang membuat aku kaget hingga tersedak air liurku sendiri. Akhir-akhir ini penduduk bumi memang berbondong-bondong pindah ke Jupiter. Bumi katanya bukan lagi tempat yang nyaman untuk ditinggali, terlebih sejak isu pemanasan global ramai jadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Jupiter? Kenapa harus begitu jauh? Kenapa tak di sini saja kau bangun rumahmu, lalu aku menemanimu pelesir kapanpun kau merasa bosan?” Jawabku sambil masih terbatuk-batuk mengatur nafas, setengah panik, setengah berharap dia bercanda barusan.

Aku takkan sekaget ini jika yang mengatakan ini adalah orang lain, yang hanya gemar bermimpi, dan tak benar-benar yakin akan mimpinya. Masalahnya kalimat mengejutkan itu baru saja kudengar dari mulut wanita paling ambisius yang pernah kutemui dalam hidupku, dan jika dia mengatakan bahwa dia ingin sesuatu, maka akan dikejarnya keinginannya itu sampai dia benar-benar mendapatkannya.

“Aku sudah muak tinggal di bumi. Muak melihat kekacauan di planet biru ini. Di sini, yang benar diperlakukan sebagai pendosa, dan yang bersalah justru mati-matian dipuja dan dihormati, yang rasanya membuat nuraniku tak lagi tentram. Teriakanku tak terdengar, dan aku lelah melihat semuanya berjalan salah. Aku harus mencari rumah baru yang memberiku rasa tentram dan kenyamanan. Dan kabarnya, Jupiter memiliki itu semua. Planet hijau itu kini kuidamkan untuk jadi tempatku beranjak tua.” Jelasnya panjang lebar dengan intonasi yang menggebu-gebu, bak aktivis yang hobi orasi di pelataran gedung hijau, semangat yang menyebabkan aku hilang kata.

Benar-benar harus sebegitu jauh?” Tanyaku akhirnya, memecah kesunyian yang tercipta semenjak dia mengakhiri pernyataan menggebunya soal bumi yang tak lagi nyaman untuk nuraninya.

Ya!” Jawabnya sambil mengangguk mantab. “Dan sesungguhnya ini bukan tentang jarak, ini tentang petualangan, petualangan menemukan tempat yang membuat nurani kita tentram. Karena jika bukan aku, tak ada seorang pun yang akan mendengarkan nuraniku. Dan jika nurani ini mendambakan petualangan, maka akan kuajak dia berpetualang.” katanya sumringah dan penuh semangat, sambil merenggangkan kedua tangannya seolah memeluk langit luas.

Lalu aku bagaimana? Kalau kamu pergi, aku sendiri.

Kuungkapkan juga akhirnya ketakutanku. Dia lalu menoleh memandang wajahku, lalu tersenyum dengan senyuman menenangkan. Rupanya kekhawatiranku tertangkap oleh radarnya. Ya, memang selain ambisius, wanita di sampingku ini mempunyai radar hebat yang mampu mendeteksi perasaan orang lain, kadang terkesan sok tahu, walau seringnya benar.

Kamu bisa ikut aku, kita bangun rumah kita di sana, berdua.

Aku terdiam. Dia masih tersenyum. Aku memalingkan wajah, lalu sunyi kembali menguasai. Memberikan aku dan dia waktu untuk sibuk dengan pikiran kami masing-masing. dan di sela-selanya, aku mencari cara untuk coba menahannya dari pergi jauh ke planet hijau dambaannya.

Entahlah!” kataku akhirnya kembali memecah keheningan. “Di sana kau mungkin akan kesulitan menemukan kentang dan ayam goreng kesukaanmu.”

Dia tertawa, lalu menjawab sambil bercanda. “Tidakkah kau tahu, planet hijau itu planet mimpi. Hal yang katanya tak mungkin di bumi, bisa terjadi di sana. Di halaman rumahku nanti, akan kubangun rumah kaca, tempatku menyilangkan berbagai jenis tanaman, hingga kudapati satu yang berbuah kentang dan ayam goreng di pucuk-pucuk pohonnya. Jadi ketakutanmu itu bukan masalah bagiku.” katanya masih tertawa.

Tawanya membuat aku frustasi. Sepertinya dia benar-benar tak lagi mudah digoyahkan. Dan aku? Ah, aku ini laki-laki pengecut. Jangankan berpetualang ke lain planet, saat ditantang pergi ke negara asing hanya bermodal ransel dan uang secukupnya pun aku sudah mentah-mentah menolak. Tak apalah jika tantangan itu berlaku di wilayah negara yang masih berbendera merah putih ini, setidaknya masih kumengerti bahasa penduduk-penduduknya. Tapi jika harus mengadu nasib tanpa benar-benar tahu cara berkomunikasi, aah, maaf-maaf saja, aku tak bernyali.

Dan jika untuk itu pun tak mampu kukumpulkan nyaliku, maka bagaimana dengan ini, wanita ini menantangku melintas planet, berpetualang katanya. Mungkin petualangan baginya, tapi itu absurd bagiku. Aku menyebut diri sendiri konservatif, gak neko-neko. Walau kebanyakan orang lebih setuju menyebutku pecundang. Dan ini pula yang membuat mereka berani bertaruh bahwa hubunganku dengan gadis petualang ini takkan bertahan lama, karena kami dinilai terlalu berbeda, walau akhirnya kami membuktikan bahwa mereka salah, setidaknya sampai saat ini, saat dia mengungkapkan rencananya pindah ke Jupiter.

Tak bisakah kau pikirkan lagi rencanamu itu? Aku tak tahu bagaimana melanjutkan hidupku tanpa pembicaraan panjang kita di bawah langit berbintang. Aku tak tahu cara memejamkan mata tanpa dongeng panjang yang kau ceritakan setengah berbisik di ujung telepon, yang baru kau hentikan saat aku terlelap. Aku tak tahu…

Aku tak mampu menyelesaikan kalimatku. Tenggorokanku tercekat. Air menggantung di pelupuk mataku. Tak pernah aku sampai lepas menangis di hadapannya, tapi kali ini, biarlah kuabaikan ego kelaki-lakianku, jika saja air mata ini mampu menahannya dari petualangan absurdnya. Karena jujur saja, walau hati ini terlanjur jadi miliknya, terlalu berat mengorbankan diri meninggalkan tanah lahirku demi memuaskan mimpi wanita kecintaanku ini.

Kamu akan baik-baik saja!” katanya tersenyum

Aku takkan baik-baik saja” jawabku dengan suara tertahan

Kamu akan baik-baik saja!” katanya sekali lagi, meyakinkan, walaupun kulihat matanya pun mulai berkaca-kaca.

Mimpiku adalah membangun rumah kami di sini, di bawah langit yang katanya memanas, di atas negeri yang katanya semerawut, bersama dia. Menjadi tua bersama, menjadi saksi setiap helai rambutnya hitam lebatnya yang menipis dan berubah abu-abu. Hingga pada suatu hari kembali menyatu bersama tanah tempat aku dilahirkan. Sedangkan mimpinya adalah berpetualang, menjelajahi dunia, planet, dan jika tak juga puas, bisa jadi dia kemudian akan berpindah dari satu galaksi, ke galaksi yang lain. Hingga pada masanya nanti petualangannya terhenti, entah di mana.

Dan aku percaya, tak ada mimpi yang boleh dikorbankan. Jika kemudian mimpi kami berbeda, tak ada yang boleh saling menahan mimpi, betapa pun besarnya cinta yang terlanjur tumbuh subur.

Maka dengan iringan air mata, aku lepas dia terbang melintas langit, menuju Jupiter, planet hijau, rumahnya yang baru.

***

Air mataku sesungguhnya sudah mengering, entah sejak kapan. Tapi tubuhku masih di sini, berdiri di tempat aku terakhir melambaikan tangan, mengucap selamat tinggal sambil berkali-kali menyeka ujung mata yang basah, mengulang-ngulang doa agar dia kembali. Di sana, di planet hijau, bisa jadi dia sedang sibuk menyilang pohon yang satu dengan yang lain, sambil sesekali mendendangkan lagu ceria dari bibirnya yang merah. Atau, bisa jadi, dia justru sudah berhasil menemukan varian pohon baru, dan saat ini sedang sibuk memanen kentang dan ayam goreng dari pohonnya.

Sosoknya melekat di otakku, selekat lintah-lintah yang menempel di kaki para ibu yang sibuk mencuci di pinggir kali. Dan aku tak henti mengharap pada Tuhan untuk menghadirkan aku di otaknya, agar siapa tahu dia berubah pikiran, lalu memutuskan kembali pulang, bertemu aku.

Semoga

*****

Wahai wanita, aku menunggumu pulang, menunggumu merindukan aku, merindukan kita, di tempat yang sama dimana aku melambai melepasmu pergi. Dan bila saatnya tiba, aku akan memelukmu yang datang dengan sisa-sisa debu Jupiter di jaketmu. Dan peluk itu takkan kulepas, hingga kau takkan bisa pergi lagi, di sini saja, di pelukku.

Bila saja kamu kembali…

Advertisements

Read Full Post »

Berpisah

let go


“Adakah perpisahan yang indah?”

Tanyamu suatu hari.

 

Pertanyaan yang menurutku aneh. Karena bukankah berpisah selalu diikuti kehilangan? Dan kehilangan selalu identik dengan air mata? Maka logikanya perpisahan takkan pernah menjelma indah. Lalu untuk apa kau pertanyakan soal keindahan perpisahan?

Pertanyaan itu tak kupahami benar maknanya, sampai hari ini. Saat kita duduk berhadapan dengan wajah tertunduk. Aku dan kamu yang mulai tak nyaman dengan tali semu yang mengikat kita. Entah mengapa. Sesungguhnya tak ada yang salah dengan dirimu. Begitupun katamu, tak ada yang salah dengan diriku. Tapi kita yang tak nyaman ini, sama-sama ingin memutus tali yang selama ini menyambungkan kita ini.

Tak rela, tapi juga tak lagi bisa dipaksakan. Ikatan ini sudah terlalu tidak nyaman untuk dibiarkan mengikat. Tapi kita masih mempertahankannya. Berharap menemukan alasan  ketidaknyamanan yang ada, lalu memperbaikinya, dan membuatnya nyaman kembali. Tapi sekuat apapun kita mencari, tak ada satupun yang tampak salah.

Aku menangis. Kamu menangis. Mati-matian ingin memperbaiki, tanpa tahu apa yang harus diperbaiki itu menyiksa. Berat jika harus memutus tali ini begitu saja, tapi membiarkannya tetap menyambung pun tak kalah menyiksanya.

Menyerah satu-satunya pilihan yang tersisa. Walaupun menyerah pun menyisakan dua pilihan. Menyerah mencari penyebab ketidaknyamanan, memutuskan tali semu ini, tanpa memaksa mencari-cari yang salah, dan kemudian memusnahkan ketidaknyamanan yang melingkupi kita. Atau justru menyerah pada ketidaknyamanan yang ada, mempertahankannya, hanya karena kita terlalu takut untuk menghadapi kehilangan.

Kita saling menatap. Sama-sama tak tahu mana yang lebih baik. Kita berdua seolah berada di bawah selimut penuh duri. Berada di bawahnya berarti harus merelakan tubuh kita tertusuk durinya. Tapi keluar dari balik selimut berarti kehilangan kamu.

Tapi bukankah kita berdua adalah mahluk merdeka, yang tidak sepatutnya menggantungkan diri pada yang lain. Kutatap matamu sekali lagi. mata yang mungkin takkan bisa kunikmati lagi teduhnya. Bukankah memaksanan “kita” berarti harus mengorbankan teduhnya mata itu, juga mataku?

Ini mungkin bukan pilihan yang mudah. Tapi ini bisa jadi yang paling baik. Berjalanlah ke arah barat. Dan aku akan melangkah menuju timurku. Kita saling menggenggam sebelum memulai melangkah. Dan sebelum kulepaskan pegangan ini, sebelum kita melangkah dengan saling melepar senyum, pertanyaanmu waktu itu tiba-tiba terngiang di kepalaku.

 

“Adakah perpisahan yang indah?”

 

Kini pertanyaaan itu tak terdengar aneh seperti sebelumnya. Karena ternyata ada perpisahan yang indah.

******

Baby you’ll do well, and I’ll be fine

Cause we’re better off, separated

Read Full Post »

heart chain

Purnama demi purnama berlalu

Mengganti banyak hal

Kecuali satu hal di hatiku

Kamu

Aku yang membiarkan diri menangis

Mengeluarkan tetes demi tetes air mata

Demi lupa yang ku harap datang setelahnya

Tapi nihil

Kamu tetap di sana

Di hatiku yang terlanjur kau jajah

Pun tak mau memerdekakan dirinya

Aku tak bisa lupa

Atau mungkin justru tak mau lupa

Jadi aku akan menyerah

Ku biarkan kamu menduduki hatiku

Sambil berharap ada penjajah baru

Yang berhasil menaklukkan kekuasaanmu

Dan menancapkan bendera kemenangan di hatiku

Biarlah aku merdeka

Dengan cara terjajah

Karena aku kehabisan cara untuk memerdekakan diriku sendiri

Read Full Post »

Bunga Yang Lupa

bunga

Setangkai bunga tergeletak di tepi jalan

Manusia lalu-lalang tanpa meliriknya

Kecuali sepasang mata

Dipungutnya sang bunga

Lalu menempatkannya dalam satu-satunya vas yang dia punya

Diletakannya di pinggir jendela

Manusia yang berlalu-lalang mulai memperhatikannya

Sang bunga mulai merasa indah

Lupa pada vas tempatnya bersandar

Apalagi pada satu-satunya mata yang memperhatikannya

Saat ia tergeletak diabaikan

Read Full Post »

cofe rain

Cangkir cappuccino-ku masih di situ, tak bergerak sejak pertama diletakan oleh pelayan kedai kopi ini dua jam yang lalu. Sedangkan cangkir espresso-mu entah sudah berapa kali berpindah tempat, isinya bahkan sudah tak bersisa. Kulemparkanan pandangan ke jalanan di kiriku, mobil tampak berlalu-lalang di jalanan yang basah oleh hujan yang masih turun.

Kedai kopi, dan hujan. Ahh ini terlalu mirip cerita yang banyak ditulis penulis-penulis yang menggambarkan kejadian putus cinta. Atau mungkin mereka memang benar-benar menuliskan berdasarkan pengalaman pribadi mereka, atau orang-orang di sekitarnya? Bahwa memang dua orang yang tadinya berpasangan biasanya mengakhiri hubungan mereka di kedai kopi. Dan saat ada hati yang terbelah, langit biasanya mengiringinya dengan menurunkan hujannya. Entah untuk menambah sendu suasana, atau justru sebenarnya hujan ini turun untuk membantu membawa pergi luka yang tersisa bersama arusnya, tapi seringnya hujan tak berhasil.

Seperti aku yang masih terduduk di kedai ini, ditemani hujan, dan cangkirku yang belum tersentuh, juga oleh sisa aromamu, dan cangkir kosong bekas kopimu yang masih di sana. Sama sekali tak ada yang terbawa oleh hujan, semuanya masih terlalu jelas di kepalaku. Dua jam yang lalu, kamu mengatakan kita tak bisa lagi terus bersama. Kita harus menghapuskan ‘kita’ katamu. Aku harus merubah ‘kita’ menjadi hanya ‘aku’ dan ‘kamu’, karena menurutmu, tidak bisa lagi ada ‘kita’. Dan kamu mengatakannya tanpa beban sambil menyesap espresso yang baru diantarkan bersama dengan cappuccino-ku. Cappuccino yang karena keterkejutanku tak tersentuh hingga detik ini.

Semudah itukah kamu menghanyutkan ‘kita’ bersama hujan yang turun sore ini? Karena sungguh, ini benar-benar tak mudah bagiku. Kenangan soal tawa yang kita lontarkan bersama masih bergema di sekelilingku. Sejelas omelanku saat prioritas tentang aku kamu letakkan dibawah pertandingan bola favoritmu yang tayang di televisi. Bagaimana itu semua bisa kuhanyutkan begitu saja bersama hujan yang datang sore ini?

Tapi kamu sudah tak lagi perduli. Kamu bahkan tak bisa memberiku kesempatan bicara. Setelah kamu buang ‘kita’ kamu justru bilang kamu tak bisa lama-lama di sini, berdiri, lalu pergi. Pergi tanpa menengok ke arahku sama sekali. Bahkan tak juga memberiku sedikit kekuatan, untuk sekedar mengatakan bahwa aku, bukan ‘kita’, akan baik-baik saja tanpa kita, tanpa kamu. Atau kamu memang sama sekali tak tahu cara berbasa-basi.

Biarlah, toh hujan ini masih setia menungguku selesai mengepak semua sisa kenanganku. Dan pada saat itu, hujan akan siap membawa pergi semuanya.

Tunggu aku siap hujan, sungguh, akan kuhanyutkan ini semua bersama aliranmu, nanti.

Tapi jangan bertanya “kapankah nanti?” hujan

Karena sungguh aku tidak tahu

Aku hanya tahu nanti

Read Full Post »

Primadona Patah Hati

“Permisi, boleh foto bareng?” Yang bertanya adalah seorang gadis cantik yang sedang bersama dengan beberapa orang temannya. Gadis-gadis bergizi baik, pikirku sambil tersenyum sendiri.

“Silahkan” Aku menjawab. Gadis itu lalu berdiri di sampingku. Kurangkul pundaknya, dia tertawa kecil saat tanganku bertengger di pundaknya. Seorang temannya mengambil gambar kami dengan kamera pocket.

“Eh, eh, gantian dong! Gw juga mau foto, lo fotoin gw sekarang!” Kata temannya yang tadi mengambil gambar kami. Maka sekarang mereka bertukar posisi, gadis yang tadi memegang kamera berdiri di sampingku. Yang satu ini bereaksi sebelum aku sempat beraksi, dia berpose mencium pipiku. Ada semburat merah di pipiku, tapi tampaknya dia tak melihat. Temannya selesai mengambil gambar. Merekapun berkata serempak dengan manis “Makasih yaaaaaah”

Begitulah kegiatanku sehari-hari. Aku sering diajak berfoto bersama seperti ini. Hari ini aku beruntung, karena hampir semua yang meminta berpose bersama adalah gadis-gadis bergizi baik. Di hari lain keberuntunganku kadang tak sebagus ini. Yang mengajak aku berfoto kebanyakan ibu-ibu yang menggendong anaknya. Itupun sambil menangis kencang di telingaku. Para ibu itu memang suka memaksa. Yah, tapi bagaimanapun, kunikmati kegiatanku ini. Bagaimana tidak, aku primadona di sini, tentu saja kunikmati.

**

Aku sedang duduk-duduk ketika sebuah tepukan di pundak mengagetkanku.

“Mas, mau foto bareng boleh?”

Kutolehkan kepalaku ke arah datangnya suara. Seorang gadis berjilbab merah. Cantik! Aku tak tahu jika ada kata yang maknanya lebih dari cantik. Aku terpaku, tak mampu berkata-kata. Jantungku berdetak lebih cepat, tak pernah dalam hidupku jantungku bergerak seaktif ini, bahkan saat berlari sekalipun.

Jatuh cintakah aku? Aku tak tahu, yang pasti aku terpana, hingga aku kehilangan kemampuanku berkata-kata.

Anggukan kepala adalah satu-satunya reaksi yang mampu kuberikan. Maka selanjutnya gadis itu duduk di sampingku, tersenyum manis ke arah kamera pocket yang dipegang temannya. Senyum termanis yang pernah kulihat sepanjang hidupku.

“Makasih yah mas”

Ah, apa.. ternyata temannya sudah selesai mengambil gambar. Aku tersihir senyumannya hingga tak sadar akan keadaan sekitar. Lagi-lagi aku tak sanggup bereaksi, maka aku hanya mengangguk. Dan kemudian gadis itu berbalik hendak pergi.

Entah dengan keberanian dari mana kutarik tangannya, mencegahnya untuk pergi. Ia terkejut dan menatapku tajam lalu menepis pegangan tanganku.

“Eh, ada apa yah” Tanyanya ketus.

“Jangan pergi mbak” Pintaku dengan keberanian yang entah datang dari mana, sambil sekali lagi kupegang tangannya, takut ia benar-benar pergi.

Plak! Pipiku panas

“Jangan kurang ajar yah mas” ia makin ketus.

“Maaf mbak saya gak maksud kurang ajar, saya jatuh cinta, sama mbak” Astaga, ngomong apa aku ini.

“Haha, ada-ada aja si mas. Ngaca dulu deh mas” Kali ini dia mengatakannya sambil berlalu pergi, tak mampu kutahan lagi.

Meninggalkan aku berdiri terpaku di tempatku.

**

Aku berdiri di depan kaca toilet tempat kerjaku. Kuikuti saran gadis tadi, berkaca.

Aku tertawa kecil. Tertawa mengasihani diriku sendiri. Diriku yang kupikir primadona. Diriku yang banyak digemari. Ternyata itu semua tak membuat urusan percintaanku menjadi lebih lancar.

Aku menatap kaca sekali lagi. Kuambil selembar tissue, kubersihkan wajahku. Dan sadar apa maksud “ngaca dulu” yang tadi dikatakan gadis yang beberapa menit yang lalu membuat hatiku berbunga, lalu patah di menit berikutnya.

Kucopot hidung merahku. Gara-gara dia aku jadi berpikir aku ini primadona.

Kulempar ia penuh marah ke arah tempat sampah.



Hidung merah sialan!

Read Full Post »

DOR!

“Semua akan baik-baik saja”

Katamu sebelum kau benar-benar meninggalkan aku.

 

Hai tuan, aku tidak akan baik-baik saja. Ingatkah saat aku memintamu untuk tidak pernah meninggalkan aku? Kau pikir permintaan itu tidak beralasan? Apa kau tidak mengerti kalimat itu? “Jangan pernah tinggalkan aku!“. Ahh, mungkin kamu belum mengerti. Jadi mari, duduklah sebentar di sini, biar kujelaskan maksudku.

 

Begini, saat kubilang “jangan pernah tinggalkan aku” itu artinya aku benar-benar tak ingin ditinggalkan. Saat aku mengatakan itu, aku layaknya ikan yang tak ingin ditinggalkan air di dalam akuariumnya. Tak ingin ditinggalkan bukan karena sekedar ingin terus bersama, tapi karena ikan itu butuh air untuk tetap hidup.

 

Kamu mengerti sekarang? Aku butuh kamu untuk bertahan hidup. Kamu oksigenku. Tanpa oksigen aku tidak bisa bernafas, mati! Belum lagi jika kamu benar-benar berbalik saat ini, lalu bertemu dengan sesosok wanita lain di ujung jalan sana.

 

Ahh, sebentar. Tampaknya bukan ketidakhadiranmu yang membuat oksigen di sekitarku seolah habis. Tapi melihat hatimu tak lagi untuk aku yang lebih menyiksa. Apakah benar-benar ada wanita lain yang sudah menunggumu di ujung jalan sana?

 

Seketika mataku basah membayangkan hatimu yang diisi nama wanita lain, bukan namaku. Tidak ada perpisahan yang membahagiakan dalam kamus hidupku. apakah kamu pernah berpisah lalu tertawa terbahak-bahak sesudahnya?

 

Hmm, ya, mungkin kamu memang akan tertawa setelah meninggalkanku. Karena wanita di ujung jalan itu kan?

 

Maafkan aku, aku tak bisa membiarkanmu pergi dengan cara seperti ini.

 

DOR!!

Nah, lebih baik begini. Menyaksikanmu pergi dengan kepala bersimbah darah begini lebih baik daripada melepasmu pergi dengan membiarkan kemungkinan kamu bertemu wanita lain itu di ujung jalan.

 

Selamat Tinggal!!!

 

Read Full Post »

Older Posts »